Senin, 30 Mei 2011

MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DALAM BELAJAR TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA

MODEL PEMBELAJARAN ROLE PLAYING
DALAM BELAJAR TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA

OLEH : PRIYONO, SH
Waka Kurikulum, Guru Basa Jawa  SMP Al Islam Cipari

Istilah model dapat didefinisikan sebagai suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman umum untuk melakukan suatu kegiatan. Jadi merupakan suatu petunjuk pelaksanaan untuk melakukan suatu kegiatan., agar pelaksanaannya tepat sasaran dan tidak melenceng dari tujuan yang hendak dicapai. Kata model juga memiliki pengertian lain, yaitu kata model dapat diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari barang atau benda yang sesungguhnya. Contohnya globe adalah model dari bumi. Tetapi pada tulisan ini kata model dimaksudkan untuk definisi yang pertama, karena definisi tersebut yang dianggap paling tepat untuk dunia pendidikan. Kerangka konseptual mirip dengan petunjuk atau langkah-langkah kerja dalam menyelesaikan suatu jenis kegiatan. Dalam dunia makanan disamakan dengan apa yang disebut dengan resep makanan.
Sedangkan untuk istilah belajar, banyak ahli yang memberikan pengertian yang beragam, yang kesemua pengertain-pengertian tersebut mengandung kelemahan-kelemahan sekaligus kelebihan-kelebihan. Kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan tersebut akan saling menutupi satu sama lainnya, yang pada akhirnya kan membawa kepada pengertain belajar yang paling tepat dan yang paling ideal. Pengertian belajar yang paling tepat menurut kami adalah yang diberikan oleh Muhibbin Syah, M.Ed yang berhasil menyimpulkan sekian banyak definisi belajar menjadi satu pengertian yang sederhana dan mudah dipahami. Menurutnya, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Proses kognitif disini diartikan sebagai berupaya untuk dapat mengetahui sesuatu. Kognitif itu sendiri merupakan domain atau wilayah atau ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Unsur-unsur tersebut harus menyatu satu sama lain dalam suatu aktifitas yang dilakukan oleh manusia untuk dapat dianggap sebagai belajar. Dengan adanya kenyataan tersebut maka akan diperolah suatu pengetahuan atau suatu nilai ilmiah yang menjadikan seorang manusia memahami sesuatu hal. Menurut para ahli bahwa proses kognitif manusia berlangsung sejak ia terlahir ke dunia. Jadi setelah terjadinya peristiwa belajar, seorang manusia akan mampu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang dapat diingatnya yang berasal dari pengalaman dan kegiatan interaksinya dengan lingkungan. Dan perlu diingat pula bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan, keadaan gila, mabuk, kelelahan, dan kejenuhan tidak dapat dipandang sebagai suatu proses belajar.
Secara sederhana role playing berarti bermain peran atau memainkan suatu peran yang tertentu. Bermain peran juga dapat diartikan sebagai suatu peragaan dari sesuatu petunjuk tertulis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Petunjuk tertulis inilah yang akan membimbing seseorang dalam memainkan suatu peran tertentu, dan kepadanya dibebankan untuk dapat memainkan peran sesuai dengan petunjuk yang ada. Model pembelajaran role playing ini diklasifikasikan ke dalam kategori pembelajaran model sosial (social model) bersama-sama dengan model investigasi kelompok (group investigation), penelitian yurisprudensi (jurisprudential inquiry), latihan laboratories (laboratory training), dan penelitian ilmu sosial (social science inquiry).
Sebagai kelompok model sosial, bermain peran lebih mementingkan pada proses interaksi antar individu yang terjadi dalam kelompok tersebut, sehingga model sosial sering disebut pula dengan interactive models (model yang bersifat hubungan antar individu). Keterlibatan individu dalam bermain peran menjadi kunci sukses suatu pembelajaran yang sedang dilakukan. Dan individu yang dapat memainkan peran dengan baik, mereka telah dianggap dapat melakukan suatu komunikasi social atau interaksi social antar sesama anggota peran lainnya. Tujuan model social ini lebih banyak diarahkan untuk menumbuh kembangkan kecakapan individu siswa dalam berhubungan dengan orang lain atau masyarakat sekitarnya.
Bermain peran disini juga harus berlangsung secara demokratis dan mempunyai misi mendorong siswa untuk berperilaku produktif. Kenapa demikian? Karena role playing memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai suatu prosedur bimbingan dan penyuluhan yang bersifat edukatif, dan sebagai suatu prosedur terapi kejiwaan dan penyuluhan yang bersifat industrial. Nilai demokratis ini dapat terlihat ketika anggota kelompok saling membagi pemeran-pemeran yang harus melakukan peranan atau demokratis dalam membuat suatu kesimpulan belajar yang tepat. Tetapi sikap demokratis itu sendiri harus selalu dalam balutan suasana edukatif atau pembelajaran dengan suatu tujuan yang terarah. Nilai produktif dihasilkan ketika para anggota kelompok saling memeras kepandaian dan kecerdikannya dalam mengurai peran-peran yang harus dilakukan. Tanpa sadar individu akan mengembangkan intelegensianya untuk dapat memainkan peran dengan sebaik-baiknya. Model ini bisa diangap sebagai salah satu usaha untuk memecahkan masalah yang berhubungan erat dengan kehidupan sosial melalui suatu peragaan tindakan. Proses pemecahan masalah tersebut melalui tahapan-tahapan pengenalan masalah, uraian masalah, peragaan tindakan, dan diakhiri dengan diskusi dan evaluasi terhadap masalah tersebut.
Tingkat tutur atau undha-usuking basa lebih dikenal masyarakat umum dengan istilah unggah-ungguh basa. Disebut dengan tingkat tutur karena dalam pemakaian bahasa jawa oleh para pemakainya mempunyai tingkatan-tingkatan yang tertentu terstandar dalam tuturannya, yang didasarkan kepada para pihak yang terlibat dalam pemakaian bahasa jawa tersebut. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya terjadi suatu perbedaan ang fundamental, yang kesemuanya itu merupakan ranah dari bahasa jawa itu sendiri. Bias dimaklumi karena basa jawa memiliki kosa kata yang paling luas dan paling banyak dibandingkan dengan jenis bahasa manapun didunia ini. Inilah sebenarnya yang menjadi awal munculnya berbagai macam kesulitan dalam mempelajari dan mendalami bahasa jawa oleh para siswa. Kesalahan sedikit dapat berakibat menjadi satu keslahan besar yang fatal, memalukan dan dapat merugikan si pembicara itu sendiri.
Tingkat tutur atau unggah-ungguh basa itu sendiri sampai dengan saat sekarang telah menjadi tanda-tanda keluhuran tata karma dan kehalusan budi pekerti masyarakat dan budaya jawa itu sendiri. Unggah-ungguh basa atau undha-usuking basa itu sendiri didalamnya juga terkandung tata karma atau sopan santun dimana ketentuan tersebut telah dipakai dalam beberapa kategori, yaitu menurut orang pertama (wong kapisan), kategori orang kedua (wong kapindho), dan kategori orang ketiga atau orang yang dibicarakan (wong katelu). Perlu diingat pula bahwa tingkat tutur basa jawa disini memiliki tujuh tingkatan pokok, yaitu basa ngoko kasar, basa ngoko lugu/lumrah, basa ngoko andhap, basa karma lugu, basa madya, basa karma inggil, dan basa kedhaton. Atau untuk keperluan pembelajaran dapat disederhanakan lagi menjadi tiga tingkatan yaitu menjadi basa ngoko, basa karma, dan basa kedhaton.
Tujuan utama dari pembelajaran tingkat tutur adalah agar para siswa mengenal keanekaragaman jenis basa jawa, siswa mengenal unggah-ungguh dalam berbicara, dan agar siswa dapat menggunakan unggah-ungguh tersebut dengan tepat dan benar, sehingga diharapkan dapat menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, yang mampu menempatkan dirinya dalam situasi apapun dan dimanapun ia berada. Karena sesungguhnya tingkat tutur itu sendiri adalah suatu tataran budi pekerti yang dikemas dalam bentuk bahasa atau percakapan yang digunakan dalam rangka berkomunikasi. Siswa yang mampu memahami tingkat tutur akan memiliki tata karma yang lebih baik, lebih menjaga kehalusan budi pekerti dan cenderung selalu mengutamakan sopan santun dalam berbicara dan bersikap.
Pembelajaran tingkat tutur dengan model pembelajaran role playing merupakan cara yang paling tepat, paling ideal, dan yang paling mengarah kepada keberhasilan yang sesungguhnya. Apalagi manakala pembelajaran dengan model role playing ini dikaitkan dengan seni budaya yang ada ditengah-tengah masyarakat jawa, yaitu khususnya pada kesenian kethoprak atau wayang. Dalam pentas pertunjukan kethoprak maupun wayang, dialog-dialog yang disuguhkan didalam pementasan merupakan dialog yang menggunakan tingkat tutur standar yang menjadi pedoman dalam unggah-ungguh basa. Bahkan kedua jenis kesenian ini menurut para ahli merupakan jenis kesenian yang selalu menggunakan unggah-ungguh basa dengan tepat dan selalu konsisten.
Model pembelajaran role playing untuk materi unggah-ungguh dengan menggunakan media kethoprak, jumlah kelompoknya bervariasi sesuai dengan kebutuhan, waktu pertemuannya juga bervariasi sesuai dengan panjang peranan yang akan diperankan, dan didalamnya harus disediakan waktu ekstra agar para peserta didik dapat mencoda sendiri peran-peran yang harus dimainkan dalam suasana interaktif antar anggota kelompok. Segala sesuatu yang akan dilakukan oleh individu dalam kelompok tersebut, harus diputuskan secara demokratis. Dan meskipun peran individu dalam kelompok tersebut berbeda-beda, tetapi menjadi keharusan agar setiap individu anggota kelompok tersebut memahami seluruh materi ucapan atau dialog yang ada dalam skrip atau naskah pementasan kethoprak tersebut.
Wayang juga dapat dijadikan media untuk pembelajaran materi unggah-ungguh basa dengan model role playing. Dalam pentas wayang, dialog-dialognya selalu tertentu, tak berubah dan menggunakan pakem bahasa yang sungguh-sungguh. Wayang juga mampu mencerminkan semua aspek yang ada dikehidupan nyata dan mampu menyelami semua jenis lapisan masyarakat. Bahasa dalam pakeliran wayang begitu lengkap tatarannya dan selalu konsisten menggunakan tingkat tutur dalam pembicaraan tokoh-tokoh didalamnya. Pembelajaran model role playing dengan media pembelajaran wayang dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan ketentuan umum antara lain, jumlah anggota kelompok bervariasi sesuai kebutuhan, waktu pemeranan juga menyesuaikan. Dengan demikian dapat memilih cerita yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran atau dapat disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. Misalnya ketika belajar tingkat tutur basa kasar, basa ngoko, ngoko alus dapat memilih bagian pentas wayang untuk penampilan para panakawan. Untuk pembelajaran tingkat tutur karma, karma alus, dan karma inggil dapat diambil cuplikan dari bagian panangkilan atau pisowanan di keratin, atau pada jejer negara. Dan untuk jenis-jenis tingkat tutur lainnya dapat dipilih bagian-bagian dari pentas wayang yang paling tepat untuk jenis tuturan yang hendak dipelajarinya.
Kethoprak, wayang, dan kesenian tradisi jawa lainnya ternayata menjadi sumber yang sangat ampuh untuk pembelajaran tingkat tutur dengan menggunakan model pembelajaran role playing. Kesenian tradisional lainnya yang sejajar dengan wayang dan kethoprak adalah ludrug dan jenis drama tradisional lainnya. Jenis-jenis kesenian tersebut diatas dianggap sudah cukup untuk mewakili jenis-jenis kesenian tradisi lainnya dalam rangka mempelajari tingkat tutur bahasa jawa. Perbedaan keduanya, yaitu antara jenis wayang dan kethoprak, hanya terletak pada tingkat kedinamisannya saja. Kethoprak dinilai lebih dinamis daripada wayang karena kethoprak dapat mengambil cerita dengan leluasa dari kehidupan manusia di masa lalu, masa sekarang dan pada masa yang akan datang.
Pembelajaran tingkar tutur dengan model role playing melalui media pacelathon atau percakapan memang dapat dilaksanakan, tetapi media ini memerlukan ketelitian dan kehati-hatian yang lebih. Apalagi jika dilakukan oleh guru yang belum sepenuhnya menguasai materi unggah-ungguh basa dengan baik. Karena pada pacelathon, tingkat tutur yang ada seringkali tidak konsisten dalam menggunakan undha-usuking basa, bahkan untuk tahap permulaan seharusnya dihindari model role playing dengan menggunakan media pacelathon. Seringkali pada pacelathon penggunaan tingkat tutur dilakukan dengan salah meski hanya sedikit, atau tingkat tutur yang ada hanya bersifat parsial belaka.
Konsistensi kethoprak dan wayang dalam menggunakan tingkat tutur terlihat dalam semua tingkatan basa. Dari basa ngoko kasar sampai dengan basa kedhaton semuanya terakomodasikan dalam kedua jenis kesenian tersebut. Disini tinggal kejelian seorang guru dalam memilih tingkat tutur yang mana yang akan dijadikan materi ajar kepada siswa. Misalnya untuk tingkat tutur basa karma, karma inggil, dan basa kedhaton, dapat dipilih babak atau adegan dalam kethoprak atau wayang pada bagian pisowanan atau pasewakan yaitu adegan pertemuan di istana. Untuk tingkat tutur basa ngoko kasar, basa ngoko lugu, dan basa ngoko andhap dapat dipilih adegan panakawan. Tokoh-tokoh dalam wayang maupun kethoprak selalu konsisten memegang satu unggah-ungguh basa untuk berbicara dengan satu tokoh lainnya dimanapun dan kapanpun cerita itu ada.
Kemudian untuk lebih jelasnya, urut-urutan kegiatan pembelajaran pada model pembelajaran role playing dengan media pembelajaran wayang atau kethoprak antara lain pada kegiatan inti pembelajaran, dengan tanpa mengklasifikasaikan tahap eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, dapat dicontohkan sebagai berikut  :
  1. Guru mempersiapkan cuplikan naskah kethoprak atau wayang yang sesuai.
  2. Guru membagi siswa dalam kelompok masing-masing.
  3. Jumlah anggota kelompok disesuaikan dengan jumlah pelaku dalam cuplikan naskah.
  4. Siswa diberi kesempatan untuk mempelajari naskah dan membagi masing-masing peran secara demokratis.
  5. Satu persatu kelompok melakukan pemeranan, dan kelompok yang lain mengevaluasi.
  6. Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan materi tentang unggah-ungguh basa yang dipakai dalam pemeranan tersebut.
Cuplikan naskah dapat diambilkan dari buku-buku pedalangan dan atau buku-buku naskah kethoprak yang sudah jadi. Dan untuk kepentingan pemisahan antara eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi, para guru dipersilahkan untuk mengelompokannya menurut keleluasaan pemikiran para guru itu sendiri.
Pembelajaran tingkat tutur sesungguhnya merupakan pembelajaran budi pekerti yang nyata. Apabila siswa dapat menguasai materi ajar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sesungguhnya seorang guru telah berhasil menanamkan budi pekerti luhur kepada siswa. Masyarakat yang mendengar seorang siswa dengan sedemikian pandai mengguakan tingkat tutur dengan tepat dan benar akan membuatnya terkagum-kagum. Kepintaran dan kesahihan siswa dalam menggunakan basa jawa sesuai dengan kaidah basa jawa yang benar akan memberikan predikat sopan santun kepada siswa yang bersangkutan. Tak ada satu orang pun yang mau mencemooh dan atau menganggapnya sok keminter, ketika seorang siswa dapat menerapkan unggah-ungguh dengan baik.
Pengunaan model role playing dalam pembelajaran tingkat tutur bukan merupakan satu-satunya model, masih banyak model-model pembelajaran lainnya yang dapat digunakan. Dan sebenarnya hanya guru yang bersangkutan saja yang paling mengerti model pembelajaran apa dan media pembelajaran seperti apa yang paling sesuai digunakan untuk memberikan materi ajar kepada para peserta didiknya.



DAFTAR PUSTAKA
1.    Mulyani Siti, 2008, model-model pembelajaran inovatif bahasa, sastra dan budaya jawa, UNY, Yogyakarta.
2.    Syah Muhibbin, M.Ed, 2007, Psikologi pendidikan, Remaja Rosda Karya, Bandung.
3.    Yatmana Sudi, Dr, dkk, 2002, Kabeh Seneng Basa Jawa 3, Yudistira, Semarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar