Rabu, 13 Januari 2016

KESENIAN TRADISIONAL







KESENIAN TRADISIONAL
diambil dari berbagai sumber























DIBUKUKAN OLEH
PRIYONO SH

GURU BAHASA JAWA
SMK TARBIYATUL ISLAM KAWUNGANTEN
SMP AL ISLAM CIPARI

TAHUN 2014

 








 

LANGEN MONDRO WANORO

Langen Mondro Wanoro adalah suatu jenis kesenian tradisional yang menyerupai wayang orang, akan tetapi berbeda dalam dialog dan tariannya. Ceritera yang dipentaskan bersumber pada kitab Ramayana dan satu pertunjukan hanya mengambil bagian-bagian tertentu saja dari kitab tersebut, misalnya Rahwono Gugur, Anggodo Duto dan sebagainya. Kesenian ini biasanya diadakan untuk keperluan upacara - upacara perkawinan, memperingati hari besar, dan lain-lain, yang sekarang sedikit demi sedikit mengalami perubahan dalam bentuk penyajiannya.  Untuk sebuah pementasan Langen Mondro Wanoro dibutuhkan pendukung sebanyak ± 45 orang yang terdiri dari pria dan wanita, yaitu 30 orang sebagai pemain, 13 orang sebagai penabuh gamelan, satu orang sebagai waranggana dan satu orang sebagai dalang.
Fungsi dalang dalam pertunjukan ini sama dengan fungsi dalang dalam wayang orang, yaitu sebagai pengatur laku dan membantu aktor dalam penyampaian ceritera dengan melakukan monolog atau suluk.  Kostum dan make up yang dipakai juga mengikuti patron wayang kulit. Dalam menyampaikan ceritera para pemain menggunakan dialog yang dilakukan dengan nembang (menyanyi) sedangkan aktivitasnya di panggung diwujudkan melalui tarian yang dilakukan dengan jengkeng (berdiri di atas lutut).  Pertunjukan Langen Mondro Wanoro ini menggunakan konsep pentas yang berbentuk arena dan biasanya dilakukan di pendopo.
Sebagai alat penerangan kini sudah dipergunakan petromak.
Alat musik yang dipakai adalah gamelan Jawa lengkap yaitu pelog dan slendro, atau slendro saja.
Pertunjukan dilakukan pada waktu malam hari selama ± 7 jam sebelum permainan dimulai biasanya didahului oleh pra-tontonan yang berupa tetabuhan atau tari-tarian.

KETHOPRAK LESUNG

 Sesuai dengan namanya, alat musik yang dipergunakan dalam Ketoprak ini terdiri dari lesung, kendang, terbang dan seruling. Ceritera yang dibawakan adalah kisah-kisah rakyat yang berkisar pada kehidupan di pademangan - pademangan, ketika para demang membicarakan masalah penanggulangan hama yang sedang melanda desa mereka atau ceritera-ceritera tentang Pak Tani dan Mbok Tani dalam mengolah sawah mereka.
Oleh karena itu kostum yang dipakaipun seperti keadaan mereka sehari hari sebagai penduduk pedesaan, ditambah dengan sedikit make up yang bersifat realis.
Untuk mementaskan Ketoprak Lesung dibutuhkan pendukung sebanyak ± 22 orang, yaitu 15 orang untuk pemain (pria dan wanita) dan 7 orang sebagai pemusik.
Dalam pertunjukan ini tidak dikenal adanya vokalis khusus atau waranggana.
Vokal untuk mengiringi musik dilakukan bersama-sama baik oleh pemusik maupun pemain.
 Pertunjukan Ketoprak Lesung ini menggunakan pentas berupa arena dengan desain lantai yang berbentuk lingkaran. Sampai sekarang Ketoprak Lesung yang ada masih mempertahankan alat penerangan berupa obor, tetapi ada juga pertunjukan Ketoprak Lesung yang menggunakan lampu.  Salah satu perbedaan Ketoprak Lesung dengan Ketoprak Gamelan adalah adanya unsur tari.
Pada waktu masuk atau keluar panggung atau kegiatan lain pemain Ketoprak Lesung melakukannya dengan tarian yang bersifat improvisasi.  Lama pertunjukan Ketoprak Lesung ini tergantung pada kebutuhan. Bila diminta bermain semalam suntuk maupun setengah malam pemain ketoprak ini akan menyesuaikan diri dengan mengambil lakon yang tepat untuk itu, akan tetapi dengan catatan bahwa pertunjukan hanya dilakukan pada malam hari.

KETOPRAK GAMELAN

Meskipun merupakan perkembangan lebih lanjut Ketoprak Lesung akan tetapi fungsi pertunjukan Ketoprak Gamelan ini tidak berubah, yaitu sebagai hiburan bagi masyarakat, yang kadang-kadang menyelipkan penerangan penerangan dari pemerintah kepada mereka. Hanya saja ceritera yang dimainkan dalam Ketoprak Gamelan ini lebih banyak diambil dari ceritera babad tentang kerajaan-kerajaan yang pernah ada, terutama di Jawa. Untuk mementaskan Ketoprak diperlukan pendukung sebanyak kurang lebih 34 orang pemain, penabuh gamelan, waranggana, dan dalang.  Lama pertunjukan untuk setiap pementasan mencapai 7 sampai 8 jam, dan bisa dilakukan baik siang maupun malam hari. Dalam pertunjukan Ketoprak ini para aktor biasanya berpedoman pada naskah singkat yang dibuat oleh dalang.  Naskah ini hanya memuat pedoman tentang adegan apa saja yang harus ditampilkan dari inti dan ceritera yang dipentaskan.
Dialog, blocking dan lain-lain permainan di panggung sepenuhnya dilakukan oleh pemain secara improvisasi.
Ketoprak ini menggunakan alat musik yang berupa gamelan Jawa lengkap pelog dan slendro, atau slendro saja.  Para pemain Ketoprak memakai kostum dan make up yang bersifat realis sesuai dengan peran dan waktu ketika mereka tampil.
Tempat pertunjukan berupa pentas berbentuk panggung dengan dekorasi (latar belakang) yang bersifat realis (sesuai dengan lokasi kejadian, misalnya di hutan, di kraton dan lain-lain).
Demikian juga dialog yang diucapkan para pemainnya.  Ketoprak Gamelan dapat dikatakan sebagai drama tradisional yang biasanya mengambil ceritera tentang kerajaan-kerajaan tempo dulu. Sebelum permainan utama ketoprak di mulai, biasanya disuguhkan terlebih dahulu pertunjukan extra berupa tari-tarian yang tidak ada hubungannya dengan ceritera yang akan dimainkan.

SRUNTUL

Sruntul adalah kesenian tradisional berupa drama tari yang biasanya dipentaskan sebagai acara hiburan pada upacara-upacara khitanan, perkawinan, atau hanya sekedar tontonan biasa, tidak untuk keperluan apa-apa. Lakon yang disajikan di sini berupa ceritera-ceritera rakyat baik yang pernah benar-benar terjadi maupun yang carangan.
Hal ini bisa dilihat dari judul-judul lakon yang dimainkan seperti misalnya : "Kaminten Edan", "Lahirnya Sudarmin", "Tingkir di Kraton Bintoro", "Demang Cokro Yudho", "Biang Gamyong", "Prawan Sundi", dan sebagainya.
Untuk mementaskan Sruntul secara lengkap diperlukan pendukung sebanyak 18 orang yaitu 10 orang sebagai pemain (pria dan wanita), 6 orang sebagai pemusik dan 2 orang sebagai waranggana.  Para pemain Sruntul menggunakan kostum ala kadarnya sesuai dengan lakon yang dimainkan yaitu berupa ceritera-ceritera rakyat pedesaan. Oleh karena itu, kostum ini juga merupakan pakaian sehari-hari mereka, ditambah dengan make-up yang bersifat reali.
Pertunjukan ini biasanya dipentaskan hanya pada malam hari selama 5 sampai 6 jam.
Sebelum pertunjukan dimulai didahului oleh pra-tontonan berupa tari-tarian atau sekedar etabuhan saja.
Pentas yang digunakan berbentuk arena dengan alat penerang pada mulanya berupa obor. Sekarang untuk penerangan ini sudah banyak digunakan lampu petromak. Alat-alat musik yang dipakai disini adalah angklung, terbang, kendang, demung atau saron, dan gong.
ANDE-ANDE LUMUT

Seperti halnya Sruntul, Ande-ande Lumut bisa digolongkan ke dalam jenis drama tari, sebab dalam membawakan ceritera para pemain melakukannya dengan tarian.
Adapun fungsi pementasan Ande-ande Lumut ini kebanyakan adalah untuk mengiringi acara melepas nadzar.
Meskipun demikian ada juga yang dipentaskan hanya sebagai tontonan hiburan biasa.  Lakon yang bisa dimainkan dalam kesenian ini adalah ceritera-ceritera Panji yang diambil hanya dari seri kisah Ande-ande Lumut saja.
Untuk mementaskan pertunjukan secara lengkap diperlukan pendukung sebanyak ± 39 orang, yaitu 25 orang untuk menjadi pemain, 12 orang menjadi penabuh gamelan, dan 2 orang menjadi waranggana.
 Dalam suatu group kesenian Ande-ande Lumut ini para pemainnya kadang kadang terdiri dari pria dan wanita, tetapi ada juga yang semuanya pria, sehingga peran wanita dimainkan oleh pria.  Dialog dalam pementasan disampaikan dengan irama yang monoton seperti dalam Langen Mondro Wanoro atau wayang orang gaya Yogyakarta, sedangkan alat musik yang digunakan adalah gamelan Jawa lengkap pelog dan slendro, atau slendro saja. Kostum yang digunakan dalam pertunjukan ini seperti dalam wayang orang, tetapi mahkota yang dipakai para pemain berbeda, dan make-up yang dipakai juga bersifat realis.  Pertunjukan Ande-ande Lumut biasanya dilakukan pada malam hari selama kira-kira 6 jam dengan acara pra-tontonan berupa tari-tarian yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok yang akan dipentaskan.
Dulu pementasan Ande-ande Lumut banyak dilakukan di arena pendapan dengan menggunakan alat penerangan berupa lampu minyak.
Sekarang pementasan pertunjukan ini sudah mulai dilakukan di panggung dengan menggunakan lampu petromak.

SRANDUL

Kesenian srandul termasuk jenis drama tari. Dilihat dari ceritera yang biasa dipentaskan terdapat perbedaan antara daerah yang satu dengan yang lain.
Di suatu daerah tertentu ceritera yang dapat dimainkan oleh kesenian Srandul adalah ceritera rakyat yang tidak terbatas pada kisah tokoh tokoh tertentu saja, akan tetapi di daerah lainnya kesenian Srandul ini hanya mementaskan ceritera rakyat dengan tokoh Dadung Awuk saja, sehingga hampir sama dengan kesenian Dadung Awuk.
Meskipun demikian alat-alat musik yang dipergunakan dan tehnis penyajiannya adalah seragam.
Untuk mementaskan pertunjukan Srandul dibutuhkan pendukung sebanyak 15 orang, yaitu 6 orang untuk menjadi pemusik dan 9 orang menjadi pemain.  Pemain Srandul ini ada yang terdiri dari pria dan wanita, tetapi ada pula yang hanya terdiri dari pria saja, dengan peran wanita dimainkan oleh pria.  Kostum yang dipakai dalam pertunjukan Srandul adalah pakaian-pakaian yang biasa dikenakan orang-orang pedesaan sehari-hari, ditambah dengan sedikit make up yang bersifat realis.  Dialog di atas pentas juga merupakan dialog dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan aktivitasnya diwujudkan dengan tarian. Alat-alat musik yang dipergunakan adalah angklung, terbang dan kendang.  Pertunjukan Srandul dipentaskan pada malam hari, dengan lama pertunjukan yang tidak tentu, tergantung pada permintaan.  Sebagai pra-tontonan hanya diberikan tetabuhan. Srandul menggunakan tempat pementasan berbentuk arena dengan alat penerangan yang sampai sekarang tetap dipertahankan, yaitu obor.

DADUNG AWUK

Dadung Awuk adalah jenis kesenian yang termasuk dalam kategori drama tari dengan pola pementasan dan alat alat musik yang hampir sama dengan Srandul.
Ceritera yang dimainkan dalam Dadung Awuk adalah kisah dari seorang tokoh yang benama Dadung Awuk itu sendiri, yang terdiri dari beberapa serial, mulai dari masa mudanya sampai ia mengabdi ke kerajaan Demak dan bertemu dengan Jaka Tingkir.
Untuk mementaskan pertunjukan Dadung Awuk secara lengkap diperlukan pendukung sebanyak kurang lebih 30 orang yaitu 9 orang sebagai pemusik dan vokalis serta 21 orang sebagai pemain yang terdiri dari pria semua. Peran wanita di sini akan dimainkan oleh pria.Kostum yang dipakai dalam pertunjukan bersifat realis sesuai dengan tokoh yang diperankan, ditambah dengan make up yang realis pula.
 
Dalam membawakan ceritera, aktivitas pemain dilakukan dengan tarian, tetapi dialog yang diucapkan adalah realis, seperti pembicaraan sehari-hari.
Adapun alat-alat musik yang dipergunakan hampir sama dengan peralatan musik Srandul yaitu angklung, kendang dan terbang.
 Pertunjukan biasanya dilakukan pada malam hari selama kira-kira 7 jam dan sebelum permainan dimulai terlebih dahulu ada pra-tontonan berupa tetabuhan.  Pentas yang dipergunakan dahulu berbentuk arena atau di pendapan, tetapi sekarang sudah banyak digunakan panggung. Apabila pertunjukan dilakukan di arena halaman, alat penerangan yang dipergunakan biasanya berupa obor, namun bila pertunjukan dilakukan di panggung atau pendapa, alat penerangnya berupa petromak atau malah lampu listrik.

TAYUB


Bentuk kesenian ini konon berasal dari pusat-pusat kerajaan Jawa zaman dahulu, dan pada hakekatnya merupakan bagian dari rangkaian upacara keselamatan atau syukuran bagi para pimpinan pemerintahan yang akan mengemban jabatan baru, misalnya dalam rangka jumenengan (wisuda), pemberangkatan panglima ke medan perang, dan lain-lain. Tayub adalah tari pergaulan tetapi dalam perwujudannya bisa bersifat romantis dan bisa pula erotis.  Dalam pelaksanaannya para tamu mendapat persembahan sampur dari penari (ledhek). Tamu itupun kemudian menari berpasangan dengan ledhek, seirama dengan iringan gamelan, sesuai dengan gending yang dipesan.
Pada mulanya pelaksanaan Tayuban tidak lebih dari kontes atau pameran keluwesan dan ketrampilan menari berpasangan tanpa meninggalkan unggah-ungguh atau sopan santun ketimuran.
Namun dalam penyebarannya di masyarakat kemudian telah terjadi penyimpangan sehingga cenderung untuk menimbulkan anggapan bahwa tayub merupakan bentuk kesenian yang menjurus kepada perbuatan yang kurang susila.
Di desa Tengahan, di Yogyakarta, tarian ini kini umumnya diselenggarakan dalam rangkaian upacara adat bersih desa, yaitu angsung dahar kepada Kyai Tunggul Wulung untuk keselamatan desa tersebut.
Jadi pusatnya pada pasarean Kyai Tunggul Wulung. Kyai Tunggul Wulung adalah tokoh tayub di desa (Tengahan) itu.  Upacara bersih desa ini diadakan setiap tahun (juga setahun sekali) dan biasanya sehabis panen.
Pada zaman dahulu tarian tayub di desa (Tengahan) ini diadakan pada malam hari, tetapi karena pertimbangan kesusilaan kini diadakan pada siang hari.
 Dengan demikian fungsi kesenian Tayub kini di samping merupakan bagian dari rangkaian upacara adat juga sebagai tontonan/hiburan.  Pendukung kesenian Tayub ini berjumlah sekitar 17 orang dengan pemain pokok meliputi dua orang penari (ledhek), dua orang vokalis wanita (waranggana) dan seorang vokalis pria (wirosworo/gerong).  Penari Tayub mengenakan kostum yang realistis yaitu rambut di sanggul gaya Jawa, kain biasa dan kain selendang sebagai penutup dada (kemben = Jawa). Kecuali itu, penari tersebut masih memakai selendang (sampur) untuk menari.  Para tamu yang akan menjadi pengibing, yang istilahnya ketiban sampur, berpakaian Jawa lengkap yaitu memakai blangkon, baju surjan, kain, stagen dan kamusnya sebagai pengikat, beserta keris/pendok.  Para pengibing benar-benar dalam Tayub ini adalah pria dewasa yang berumur antara 30 - 60 tahun. Setiap pengibing menggunakan tehnik tari Jawa gagah atau halus dengan gaya-gaya improvisasi. Makin kaya gerak yang dikuasainya akan membuat adegan duet semakin meriah.  Pertunjukan diadakan pada waktu siang hari selama 6 jam, mulai dari jam 10.00 hingga jam 16.00. Dari jam 10.00 sampai jam 12.00 itu waktu diisi dengan klenengan sebagai pra-tontonan sebelum pertunjukan Tayub yang sebenarnya dimulai.  Pentas Tayub merupakan konsep arena dengan lantai yang kadang-kadang berupa lingkaran, lurus dan sering pula garis-garis lengkung.
Biasanya untuk Tayub ini digunakan pendopo Kalurahan ataupun Pedukuhan.
Adapun instrumen musik yang dipakai adalah gamelan Jawa lengkap.

JATILAN DAN REOG


Jatilan adalah salah satu jenis tarian rakyat yang bila ditelusur latar belakang sejarahnya termasuk tarian yang paling tua di Jawa. Tari yang selalu dilengkapi dengan property berupa kuda kepang ini lazimnya dipertunjukkan sampai klimaksnya, yaitu keadaan tidak sadar diri pada salah seorang penarinya.  Penari jatilan dahulu hanya berjumlah 2 orang tetapi sekarang bisa dilakukan oleh lebih banyak orang lagi dalam formasi yang berpasangan. Tarian jatilan menggambarkan peperangan dengan naik kuda dan bersenjatakan pedang. Selain penari berkuda, ada juga penari yang tidak berkuda tetapi memakai topeng. Di antaranya adalah penthul, bejer, cepet, gendruwo dan barongan.
Reog dan jatilan ini fungsinya hanya sebagai tontonan/hiburan, ini agak berbeda dengan fungsi reog pada zaman dahulu yang selain untuk tontonan juga berfungsi sebagai pengawal yang memeriahkan iring-iringan temanten atau anak yang dikhitan serta untuk kepentingan pelepas nadzar atau midhang kepasar. Perbedaan antara Jatilan dan Reog antara lain adalah pertama, dalam permainan Jatilan penari kadang-kadang bisa rnencapai trance, sedangkan pada Reog penari tidak bisa mengalami hal ini.
Kedua, pada Jatilan selama permainan berlangsung digunakan tempat / arena yang tetap.
Pada Reog selain permainannya tidak menggunakan arena atau tempat yang tetap, juga sering diadakan untuk mengiringi suatu perjalanan ataupun upacara.
Mengenai kapan dan dimana lahirnya dua jenis kesenian ini orang tidak tahu. Para pemain Jatilan dan Reog hanya mewarisi kesenian tersebut dari nenek moyang mereka.
Orang-orang umumnya menyatakan bahwa Jatilan dan Reog sudah ada sejak dulu kala.
Pendukung permainan ini tidak tentu jumlahnya tergantung pada banyak sedikitnya anggota.
Meskipun demikian biasanya pendukung tersebut sekitar 35 orang dan terdiri dari laki-laki dengan perincian: penari 20 orang; penabuh instrumen 10 orang; 4 orang penjaga keamanan/ pembantu umum untuk kalau ada pemain yang mengalami trance; dan 1 orang sebagai koordinator pertunjukan (pawang).  Para penari menggunakan property pedang yang dibuat dari bambu dan menunggang kuda lumping. Di antara para penari ada yang memakai topeng hitam dan putih, bernama Bancak (Penthul) untuk yang putih, dan Doyok (Bejer/Tembem) untuk yang hitam. Kedua tokoh ini berfungsi sebagai pelawak, penari dan penyanyi untuk menghibur prajurit berkuda yang sedang beristirahat sesudah perang-perangan. Ketika menari para pemain mengenakan kostum dan tata rias muka yang realistis. Ada juga group yang kostumnya non-realistis terutama pada tutup kepala; karena group ini memakai irah-irahan wayang orang.  Pada kostum yang realistis, tutup kepala berupa blangkon atau iket (udeng) dan para pemain berkacamata gelap, umumnya hitam. Selama itu ada juga baju/kaos rompi, celana panji, kain, dan stagen dengan timangnya. Puncak tarian Jatilan ini kadang-kadang diikuti dengan keadaan mencapai trance (tak sadarkan diri tetapi tetap menari) pada para pemainnya.
Sebelum pertunjukan Jatilan dimulai biasanya ada pra-tontonan berupa tetabuhan dan kadang-kadang berupa dagelan/ lawakan.
Kini keduanya sudah jarang sekali ditemui.
Pertunjukan ini bisa dilakukan pada malam hari, tetapi umumnya diadakan pada siang hari.
Pertunjukan akan berlangsung selama satu hari apabila pertunjukannya memerlukan waktu 2 jam per babaknya, dan pertunjukan ini terdiri dari 3 babak.
Bagi group yang untuk 1 babak memerlukan waktu 3 jam maka dalam sehari dia hanya akan main 2 babak. Pada umumnya permainan ini berlangsung dari jam 09.00 sampai jam 17.00, termasuk waktu istirahat.  Jika pertunjukan berlangsung pada malam hari, maka pertunjukan akan dimulai pada jam 20.00 dan berakhir pada jam 01.00 dengan menggunakan lampu petromak.  Tempat pertunjukan berbentuk arena dengan lantai berupa lingkaran dan lurus. Vokal hanya diucapkan oleh Pentul dan Bejer dalam bentuk dialog dan tembang, sedangkan instrumen yang dipakai adalah angklung 3 buah, bendhe 3 buah, kepyak setangkep dan sebuah kendang. Peralatan musik ini diletakkan berdekatan dengan arena pertunjukan.
Jatilan Gaya Baru. Dewasa ini ada kemajuan dalam kesenian tan Jatilan dengan munculnya Jatilan Gaya Baru di desa Jiapan, Tempel dan Sleman. Instrumen yang dipakai adalah kendang, bendhe, gong, gender dan saron. Jadi jenis Jatilan ini sudah tidak memakai angklung lagi. Yang menarik pada Jatilan ini adalah apabila pemain berada dalam keadaan trance dia bisa berbicara dalam bahasa Indonesia dan kalau diperbolehkan dia bisa menunjuk orang yang telah mengganggu pertunjukan, seandainya gangguan ini memang terjadi.
Sering pula dalam keadaan trance ini pemain meminta sebuah lagu dan ketika lagu itu dinyanyikan oleh pemain musik ataupun oleh Pentul dan Bejer, penari yang trance tersebut berjoged mengikuti irama lagu tersebut. Dalarn keadaan trance mata si penari tidak selalu tertutup, ada juga penari yang matanya terbuka seperti dalam keadaan biasa.
Kuda lumping di sini tidak hanya 6 tetapi 10 buah.
 Dua kuda pasangan terdepan berwarna putih, sedangkan yang 8 buah berwarna hitam. Dua kuda pasangan yang ada di baris belakang adalah kuda kecil atau anak kuda (belo - Jawa).
Anak kuda ini dibentuk sedemikian rupa sehingga memberi kesan kekanak-kanakan. Kepala kuda yang kecil memandang lurus ke depan, sedang kepala kuda yang lain tertunduk.  Perbedaan sikap kepala kuda lumping itu bukan hanya model atau variasi, tetapi memang digunakan untuk menunjukkan atau memberi kesan bahwa peran kuda tersebut berbeda dengan kuda-kuda yang lain dan gaya tarian orang yang menunggang anak kuda agak berlainan, yaitu harus lebih lincah dan leluasa dalam bergerak/bergaya, dan memberi kesan kekanak-kanakan.
Di samping itu masih banyak keunikan-keunikan yang menambah kemeriahan pertunjukan Jatilan Gaya Baru ini.




 Slawatan

Slawatan adalah salah satu bentuk teater tradisional yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Slawatan ini merupakan kesenian rakyat yang bernafaskan agama Islam, dan menggunakan alat musik rebana (terbang, Jawa) dan sejenisnya. Kesenian ini dinamakan Slawatan karena dalam pertunjukan para pemainnya mengucapkan/menyanyikan shalawat (pujian untuk nabi) atau paling tidak menampilkan unsur shalawat dalam pertunjukannya. Syair shalawat ini ditulis dalam sebuah buku yang disebut Kitab Barzanji, yang berisi puji-pujian atas kebesaran Nabi Muhammmad S.A.W. dan ikut bergembira atas kelahirannya di dunia.
Jenis slawatan ini muncul ketika agama Islam mulai menyebar secara mendalam di kalangan masyarakat Jawa pada sekitar abad ke XVI. Kesenian Slawatan ini berfungsi sebagai alat penyiaran agama Islam, di samping sebagai tontonan/ hiburan yang menarik. Adapun yang termasuk kesenian slawatan adalah:
(1) Slawatan Maulud;
(2) Slawatan Laras Madya;
(3) Barzanji;
(4) Rodad/Slawatan Rodad;
(5) Emprak;
(6) Angguk;
(7) Trengganan/kuntulan;
(8) Peksi Moi;
(9) nDolalak;
(10) Badui;
(11) Kobrasiswa;
(12) Samroh/ Qosidahan.
Slawatan Maulud. Slawatan Maulud inilah yang dikenal masyarakat umum sebagai kesenian Slawatan. Sejak dahulu sampai sekarang Slawatan Maulud ini tetap hidup seperti keadaan aslinya. Fungsinya adalah sebagai alat dakwah agama Islam.
Kesenian ini sebenarya bukan seni pertunjukan, artinya dia tidak ditonton oleh umum.
Kalau toh ada penonton di situ, kedudukan mereka lebih sebagai pendengar.
Pementasan Slawatan Maulud ini bisa dijalankan minimal oleh enam orang dan maksimal oleh 40 orang, walaupun demikian biasanya dijalankan oleh sekitar 15 - 20 orang.
Para pemain Slawatan menggunakan kostum realis yaitu pakaian yang dipakai sehari-hari dan tidak memakai rias muka. Biasanya permainan ini diadakan di masjid atau langgar tetapi sering juga di rumah penduduk. Vokal disampaikan dalam bentuk nyanyian berbahasa Arab. Pertunjukan ini tidak memakai naskah tetapi menggunakan pedoman kitab Barzanji. Ada juga teks yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa sehingga nyanyiannya berbahasa Jawa. Jenis ini disebut Slawatan Maulud Jawi.
Penyelenggaraannya pada waktu malam hari selama kurang lebih 8 jam, dimulai dari jam 20.00 hingga jam 04.00. Alat penerangan yang digunakan disini adalah petrornak untuk waktu sekarang, dan lampu keceran atau lampu gantung di masa yang lalu.
Instrumen musik yang dipakai antara lain adalah rebana yang terdiri atas beberapa buah menurut ukuran dan nada, kendang (dodog dan beb), kempul, kenting, ketuk dan gong.
Pemain kesenian Slawatan ini semuanya laki-laki.


Slawatan Laras Madya

Kesenian Slawatan ini berbeda dengan Slawatan Maulud. Kesenian ini lahir di Surakarta (Solo) pada zaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono ke IV. Sejak dahulu sampai sekarang kesenian Slawatan Laras Madya ini hidup dan berkembang masih seperti aslinya. Fungsi kesenian ini adalah sebagai alat berdakwah serta untuk hiburan. Kesenian ini juga bukan seni pertunjukan untuk ditonton oleh umum. Kalaupun ada penonton, maka mereka hanya sebagai pendengar saja.  Jumlah pemain kesenian Laras Madya ini sekitar 15 - 20 orang dan biasanya terdiri dari laki-laki yang berusia 25 tahun ke atas. Pertunjukan kesenian ini memakai pedoman sebuah buku yang disebut Kitab Wulang Reh yang berbahasa Jawa, karya Sri Sunan Pakubuwono ke IV di Solo.
Nyanyian disampaikan dalam bahasa Jawa dan berisi nasehat ataupun petunjuk tentang kebajikan.
Alat musik yang dipakai selama terbang seperti pada Slawatan Maulud, adalah kendang, peking (dua belah saron pada gamelan yang terdiri dari dua nada) dan kentongan kecil. Kostum yang dikenakan oleh para pemain adalah pakaian sehari-hari.
Kesenian ini dipentaskan pada malam hari selama kurang lebih 8 jam. Pertunjukan dimulai dari jam 20.00 dan berakhir pada jam 04.00.
Alat penerangan yang dipakai adalah lampu petromak untuk zaman sekarang dan lampu keceran/lampu triom di masa lalu.
Pentas yang dipakai berbentuk arena. Untuk menyelenggarakan pertunjukan ini tidak diperlukan tempat khusus. Ruang di dalam rumah para warga ataupun penduduk yang menyelenggarakannya sudah dianggap memadai.


Barzanji

Barzanji adalah bentuk Slawatan yang tidak memakai alat musik tetapi dimainkan oleh sejumlah orang yang bernyanyi bersama-sama/koor. Mengenai kapan timbulnya bentuk Slawatan Barzanji mi, masyarakat umumnya tidak mengetahui, tetapi kemungkinan besar kesenian ini mulai ada hampir bersamaan dengan timbulnya Slawatan Maulud.
Kesenian ini hidup dan berkembang tetap dalam keadaan yang asli dan hanya berfungsi sebagai alat penyiaran agama Islam serta sedikit hiburan, sehingga bukan termasuk seni pertunjukan. Jadi tidak ada penontonnya secara khusus.
Jumlah pemain kesenian ini tidak tertentu.
Bisa sedikit, bisa pula banyak, tetapi biasanya sekitar 25-30 orang. Para pemainnya bisa laki-laki semua, bisa pula wanita semua, tetapi ada juga yang campuran. Mereka kebanyakan berumur antara 17 - 30 tahun.
Sebagaimana halnya Slawatan Maulud, Barzanji inipun menggunakan Kitab Barzanji sebagai pedomannya; tetapi lagunya berbeda.
Kostum yang dikenakan oleh para pemain adalah pakaian sehari-hari.
Barzanji biasanya diadakan pada waktu malam hari selama kurang lebih 3 jam dimulai dari jam 21.00 dan berakhir jam 24.00.  Pentas yang dipakai berbentuk arena, dan menggunakan tempat-tempat peribadatan seperti mesjid dan langgar (surau) untuk pementasannya. Alat penerangan berupa lampu petromak atau lampu keceran/gembung. Lampu petromak banyak dipakai pada zaman sekarang ini tetapi pada masa lampau banyak digunakan lampu keceran dan lampu gantung.


Rodad

Rodad merupakan tarian rakyat yang dalam pementasannya berupa tarian kelompok berpasangan. Kesenian ini termasuk jenis slawatan yang lama dan sekarang ini sudah jarang ditemui.  Perkumpulan kesenian Rodad yang masih ada pun sudah jarang mengadakan pementasan. Jenis tarian ini dari dulu sampai sekarang bertahan hidup masih seperti keadaan aslinya. Fungsi dan pertunjukan Rodad adalah sebagai tontonan bagi masyarakat umum, yang para penontonnya tidak dipungut bayaran.
Jumlah pendukung pementasan kesenian ini sekitar 30 orang, yang terdiri dari 20 orang penari dan 10 orang pemain instrumen.
Kesenian ini juga masih menggunakan pedoman Kitab Barzanji. Para pemainnya menggunakan kostum realistis yaitu memakai peci, baju dan celana seragam. Mereka selalu membawa kipas dari kertas atau saputangan sebagai perlengkapan tangan.  Penari berada dalam posisi duduk bersimpuh dan jengkeng.
Hanya pada waktu srokal saja mereka berdiri dengan posisi kaki tertutup.
Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa: "Gerak lebih dipusatkan pada tangan serta kepala, yang memang memiliki sentuhan spiritual dan kadang-kadang dibarengi oleh liukan-liukan badan (torso)". Pertunjukannya diselenggarakan pada malam hari selama 4 - 5 jam, dari jam 20.00 hingga jam 01.00.
Alat penerangan yang digunakan pada jaman dulu dan sekarang sudah berlainan. Kalau dulu digunakan obor, sekarang banyak dipakai petromak.  Sebelum pertunjukan dimulai kadang-kadang dilakukan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, kadang-kadang juga didahului oleh pencak silat sebagai pra-tontonan.  Pertunjukan semacam ini biasanya mengambil tempat di dalam rumah penduduk atau di serambi mesjid.  
Dalam tarian Rodad ini para penari tidak memakai rias muka. Vokal disampaikan dengan nyanyian berupa bacaan shalawat. Ada yang disampaikan dalam bahasa Arab, ada juga dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Instrumen yang digunakan adalah 4 buah terbang dan 1 jedor. Dalam perkembangannya instrumen ini ada yang ditambah dengan sebuah tambur (genderang) dan sempritan (peluit).  Shalawat dibacakan bersama-sama bergantian antara kelompok penari dengan kelompok pemain instrumen pengiring yang dipimpin oleh seorang dalang yang disebut ro’is.


Emprak

Emprak merupakan sendratari yang diiringi dengan musik slawatan yang berceritera tentang kisah kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. Emprak boleh dibilang merupakan suatu peragaan dari isi ceritera yang ada dalam Kitab Barzanji.
Fungsi kesenian Emprak ini hanyalah sebagai hiburan atau tontonan biasa. Kesenian ini lahir pada sekitar tahun 1927 di desa Pleret/Mejing, Gamping, Sleman.
Penciptanya adalah Kyai Derpo, beliau adalah putra dan seorang abdi dalem kraton yang bernama Dipowedono.
 Jumlah pemain kesenian ini berkisar 30 orang yang terdiri dari 20 orang penari dan 10 orang pemain alat musik atau pengiring. Pada mulanya penari Emprak terdiri dari laki-laki semua, tetapi pada tahun 1950 mulai ada penari wanita.
Mereka berusia antara 15 tahun sampai dengan 35 tahun.
Kostum yang dipakai para pemain Emprak bersifat realistis dan berorientasi ke Arab, sedangkan rias mukanya ada yang realistis, ada juga yang tidak realistis. Kostum pemain terdiri dari serban, kupluk (peci) yang berwarna merah atau hitam, sampur, kain, kemeja panjang, blangkon, jubah dan lain-lainnya. Warna kostum dan rias muka para pemain memiliki arti simbolis sebagai berikut:
(1) warna merah pada rias muka dan kostum untuk watak angkara murka;
(2) warna putih pada rias muka dan kostum untuk watak suci;
(3) warna hitam untuk watak jujur,
(4) warna lorek menggambarkan watak yang meliputi ketiga watak sebelumnya yaitu, angkara murka, suci dan jujur.
Pertunjukan emprak ini berpedoman kepada Kitab Barzanji.
Isi ceriteranya juga diambil dari Kitab tersebut.
Pentas yang dipergunakan berupa arena, yang biasanya adalah pendopo rumah-rumah penduduk atau pendopo balai desa/kalurahan. Disain lantai melingkar tetapi pada saat tertentu juga menggunakan garis lurus. Alat musik yang dipakai adalah terbang yang berjumlah 6 buah, dan alat musik yang dipakai pada Slawatan Maulud, yang terdiri dari kendang (dodog dan beb), kenting, kempul, ketuk dan gong. Kadang-kadang masih ditambah lagi dengan kentongan.
Pertunjukan biasanya diselenggarakan pada malam hari selama kurang lebih 8 jam, dari jam 21.00 sampai jam 05.00. Pada masa lalu, alat penerangan yang dipakai lampu triom (gantung) tetapi sekarang sudah mempergunakan lampu petromak.


 Angguk

Angguk termasuk tarian rakyat yang sudah agak tua. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan dalam rangka memperingati hari besar Islam, terutama hari lahir serta wafatnya Nabi Muhammad S.A.W. Dalam penyajiannya tarian ini termasuk tarian kelompok berpasangan dan berfungsi sebagai tontonan/hiburan bagi rnasyarakat desa.
Jumlah pendukung kesenian ini secara keseluruhan ada sekitar 50 orang dengan perincian 10 orang sebagai pemain musik serta vokalis, dan yang 40 orang lainnya menjadi penari.
Para pemain adalah laki-laki yang berusia antara 30 - 45 tahun.
Berkenaan dengan penggarapan. artistik kesenian ini Penari tanpa rnenggunakan rias muka, sedang kostum yang dipakai terdiri dan blangkon, jamang, kacamata dan srempang’, para penarinya membawa kepet (kipas).
 Dalam pertunjukan kesenian Angguk ini ada seorang yang bertugas sebagai dalang, dengan dibantu oleh seorang pembaca kitab Barzanji yang ditulis dengan tulisan Arab dan berbahasa Arab pula.
Kelompok penari Barzanji bersaut-saut dengan pembaca buku yang disebut dalang Gerakan penari Angguk mi sederhana dan diulang - ulang. Mereka menggerak-gerakkan kipas.
Ketika tiba saatnya penari untuk menyanyi maka gerak tariannyapun akan lain, yaitu akan disesuaikan dengan lagu tersebut.  Ketika berada dalam posisi duduk, anggauta badan yang bergerak adalah kepala dan tangan. Gerakan kepala inilah yang membuat kesenian ini dinamakan Angguk. Para pemain duduk berpasang-pasangan dan pada waktu srokal semuanya berdiri. Saat berdiri inilah tarian akan ditambah dengan gerakan kaki.  Pertunjukan Angguk dilakukan dalam arena dengan desain lantai lurus. Kesenian ini biasanya memakai tempat emper (serambi) rumah atau kuncung rumah sebagai arena pementasan dan sebagai iringannya dipergunakan terbang genjreng sebanyak tiga buah dan satu jedor.  Pertunjukan ini dilaksanakan pada waktu malam hari dan memakan waktu 4 jam atau 5 jam, dari jam 21.00 hingga jam 02.00.Alat penerangan yang digunakan pada jaman dulu adalah gembung atau lampu triom. Pada masa sekarang orang menggunakan lampu petromak.


Trengganom / Kuntulan

 Trengganom/kuntulan termasuk tarian rakyat yang sudah tua, yang hingga sekarang masih hidup walaupun jarang sekali ditemui. Waktu kemunculannya tidak banyak diketahui orang. Para informan mengatakan bahwa jenis kesenian ini sudah lama ada dan mereka hanya mewarisinya dari orang tua atau kakek mereka saja.
Kesenian ini hampir punah karena para pemuda sekarang tampaknya sudah tidak lagi tertarik pada kesenian ini, padahal generasi tua sudah terlalu tua untuk bermain.
Jadi tidak ada atau sangat sedikit orang yang bersedia dan dapat meneruskan jenis kesenian ini.
Tarian Trengganom termasuk jenis tari-tarian berpasang-pasangan, sedangkan fungsi dan pertunjukannya hanyalah sebagai tontonan/hiburan.  Pemain Trengganom ada sekitar 40 orang dengan perincian: 10 orang sebagai pemain musik dan vokalis, sedangkan yang 30 orang menjadi penari.  Kostum pemain terdiri dan peci yang diberi hiasan (kertep), baju atau kaos lengan pendek, celana pendek dan kaos kaki panjang.
Pemain yang ada di paling depan dan belakang memakai kacamata.
Tarian yang ditampilkan mengambil gerakan jurus-jurus dan pencak silat dan dilakukan secara spontan menurut irama musik.
Ketika menari posisi kaki pemain kadang-kadang terbuka, kadang-kadang tertutup, sedangkan posisi lengan rata-rata sedang.
Vokal disampaikan dalam bentuk nyanyian berbahasa Arab.
 Adapun alat musik yang dipakai adalah 3 buah terbang dan 1 (satu) jedor, ditambah seruling dan harmonika.
Pemegang instrumen musik umumnya merangkap vokalis.
Selain itu juga masih ada vokalis khusus. Letak pemain alat musik bebas, tidak terikat kepada pemain, apakah harus di depan, di belakang ataupun di samping. Para pemain tidak memakai rias muka.
Pertunjukan kesenian ini biasanya diselenggarakan dengan menggunakan halaman rumah penduduk ataupun halaman masjid pada malam hari dan memerlukan waktu 4 sampai 5 jam, mulai dari jam 20.00 hingga jam 01.00.
Alat penerangan adalah lampu petromak untuk zaman sekarang, dan lampu gembreng atau gantung di zaman dahulu.
 


 nDolalak







nDolalak termasuk tarian rakyat jenis slawatan yang pementasannya dilakukan secara berpasang-pasangan. Kesenian ini tidak mengandung ceritera, jadi hanya merupakan tarian saja. Tarian rakyat ini termasuk tua dan hampir punah, sehingga jarang sekali dijumpai. Bahkan kelompok yang masih adapun jarang mengadakan pementasan. Berdasarkan keterangan para orang tua, tidak aktifnya kesenian ini adalah karena para pemuda sekarang tidak lagi tertarik pada tarian tersebut. Mereka enggan mempelajarinya, sehingga kesenian ini tidak bisa diwariskan dari orang-orang tua kepada anak-anak muda sekarang.  Fungsi dari kesenian ini hanyalah sebagai hiburan atau tontonan biasa. Jumlah pendukung pementasan nDolalak adalah sekitar 34 orang dengan perincian 28 orang sebagai penari, dan 6 orang sebagai pemain instrumen musik dan vokalis. Para penari nDolalak mengenakan kostum yang realistis, terdiri dari peci (kopiah), baju, celana dan tanpa rias muka.  Gerak tarian mereka mengambil dari jurus-jurus yang terdapat dalam pencak silat seperti sempok, ngecek dan keplek.
Posisi kaki ada yang terbuka ada pula yang tertutup.
 Pertunjukan nDolalak biasanya menggunakan tempat di halaman rumah penduduk. Alat musik yang dipakai adalah 3 buah terbang genjreng dan 1 jedor. Tarian ini dipentaskan pada malam hari dengan lama ± 4 jam, dari jam 21.00 hingga jam 01.00. Para penari adalah para pria yang rata-rata berusia antara 20 - 35 tahun.  Kesenian ini menggunakan konsep pentas berbentuk arena dengan desain lantai lurus.
Kelompok pemusik berada di halaman di dalam lingkaran, di antara para penonton dan para penontonnya berdiri mengelilingi.  Pada masa lalu alat penerangan yang biasa dipergunakan adalah lampu keceran atau lampu triom, sedangkan sekarang orang lebih sering memakai lampu petromak.


Samroh Qosidahan

Kesenian Samroh/Qosidahan ini diduga memiliki usia paling muda dibanding dengan jenis slawatan yang lain. Pada umumnya kesenian ini banyak digemari dan dilakukan oleh remaja puteri. Samroh ini dapat dikatakan semacam vokal group yang menyanyikan lagu-lagu bernafaskan agama Islam. Kapan kesenian ini muncul tidak banyak diketahui orang.  Fungsi dari kesenian ini adalah sebagai tontonan/ hiburan.
Jumlah pemain Samroh sekitar 12 - 15 orang.
 Ada kalanya puteri semua, ada pula yang putra-putri berusia rata-rata antara 15 - 25 tahun.  Kostum yang dipakai oleh para pemain Samroh ialah realis, yaitu pakaian sehari-hari yang lazim dipakai orang Islam.
Pada pokoknya alat musik yang dipakai adalah rebana.
 Dalam perkembangannya kemudian alat-alat musik baru kemudian ditambahkan yaitu tambur, seruling, harmonika dan ketipung.  
Walaupun demikian, tidak semua group Samroh/Qosidahan menggunakan semua instrumen-instrumen ini, akan tetapi semua alat-alat tersebut sering dipakai dalam kesenian ini.  Para pemain alat musik biasanya juga merangkap sebagai vokalis. Jumlah vokalis yang khusus tidak tentu bisa banyak dan bisa sedikit. Paling sedikit satu orang tetapi ada juga yang mencapai 9 orang, bahkan ada pula group yang tidak memiliki vokalis khusus sama sekali.  
Para pemain musik biasanya sekitar 6 orang.  Ada pula yang mencapai 12 orang, walaupun yang kedua ini sudah jarang ditemui karena yang paling sering ditambah jumlahnya adalah pemain rebana.  Waktu pertunjukan bisa siang, bisa pula malam hari.
Yang paling sering adalah pada malam hari dengan waktu yang tidak tertentu. umumnya sekitar 2 jam.
 Pertunjukan ini biasanya bukan merupakan acara yang tunggal tetapi digabungkan dengan acara-acara lain ataupun sebagai salah satu pengisi acara dari rangkaian acara yang telah ada.  
Alat penerangan yang digunakan ketika pementasan adalah lampu petromak atau lampu listrik. Pertunjukan ini menggunakan pentas dengan tata panggung realis dan desain lantai lurus berbanjar dua sap.


Dagelan Mataram

GP Hangabehi, bangsawan kraton Yogyakarta, putra dalem Sultan Hamengkubuwono VIII, seperti bangsawan kraton umumnya, mempunyai seperangkat abdi dalem yang bertugas melayani segenap kebutuhannya. Di antara para abdi dalem itu, adalah sekelompok yang diberi nama abdi dalem oceh-ocehan, yaitu para abdi dalem yang secara khusus mempunyai tugas menghibur dan membuat tertawa orang yang melihat tingkah serta mendengarkan ocehan mereka.
Dalam tradisi kraton yang tidak begitu jelas kapan dimulainya, dan diduga akibat pengaruh cerita-cerita kuno serta berkaitan dengan kepercayaan dan kebangsaan raja ini, dimasukkanlah ke dalam kelompok abdi dalem oceh-ocehan ini orang-orang yang mempunyai cacat-cacat tubuh dan kelucuan-kelucuan tubuh alamiah, yang atas perintah raja sengaja dicari dari seluruh penjuru negeri. Pada upacara upacara kraton tertentu, seperti upacara perkawinan, orang orang aneh tersebut dibeni tugas untuk melakukan upacara yang disebut edan-edanan di depan kedua mempelai. Mereka naik kuda lumping sambil bergerak-gerak dan menari-nari.
Pangeran Hangabehi sangat menaruh perhatian terhadap kesenian, terutama sekali terhadap humor. Pada setiap hari kelahirannya, pangeran memanggil abdi dalem oceh-ocehannya untuk menceritakan pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain yang lucu-lucu, hingga yang mendengarkan tertawa semuanya. Pada mulanya pengalaman yang diceritakan itu adalah pengalaman yang benarbenar dialami, akan tetapi berhubung setiap kali mereka harus bercerita seperti itu, perbendaharaan lucu merekapun habis.
Mereka mulai menceritakan pengalaman-pengalaman rekaan, bahkan omong asal omong pokoknya lucu dan pendengarnya merasa terhibur. Pangeran Hangabehi agaknya sangat bergembira dengan hal ini. Oleh karena harus main di depan kerabat bangsawan kraton, maka para abdi dalem ini juga hams mengindahkan sopan-santun.
Di halaman Dalem Ngabean, tempat Pangeran Hangabehi berdiam, berdirilah sebuah pemancar radio milik Belanda yang diberi nama MAVRO (Mataramsche Vereneging Radio Omroep). Salah satu siaran rutin MAVRO adalah uyon uyon gending Jawa. Atas prakarsa sang Pangeran yang sudah barang tentu mempunyai kesempatan luas untuk menyelenggarakan siaran di radio Belanda itu, lelucon-lelucon abdi dalem oceh-ocehannya disiarkan sebagai selingan pada siaran uyon-uyon gending Jawa tersebut. Selingan mi diberi nama "dagelan". Para abdi yang mengisi siaran "dagelan" itu antara lain, adalah Den Bekel Tembong (RB Lebdojiwo), Den Jayengwandi (RB Jayengwandi), Den Jayengdikoro, dengan tambahan baru Pardi Cokrosastro untuk membawakan peran wanita dan kemudian disusul lagi Saiman, juga pemeran wanita. Selanjutnya untuk Iebih memantapkan nama, "dagelan" yang disiarkan lewat MAVRO ini oleh seorang yang bernama RM Marmadi diberi nama "Dagelan Mataram".
Di luar Puri Ngabean, pada pertunjukan kesenian rakyat yang bobot hiburannya selalu lebih besar dan bobot keindahan maupun keagungannya, humor tampak selalu ada. Humor ini diketengahkan dan dimunculkan dengan memakai gerak, tari, tingkah, nyanyian ataupun cetusan dan ungkapan yang semuanya sengaja dilucu-lucukan agar para penontonnya tertawa dan terhibur (1908).
Ketoprak, sebagai satu-satunya kesenian rakyat yang paling populer dan digandrungi pada saat itu, sudah tentu juga mengandung humor yang demikian.



 Wayang Wong


Wayang wong adalah salah satu jenis teater tradisional Jawa yang merupakan gabungan antara seni drama yang berkembang di Barat dengan pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa. Lakon yang dipentaskan disini bersumber pada ceritera-ceritera wayang purwa. Jenis kesenian ini pada mulanya berkembang terutama di lingkungan kraton dan kalangan para priyayi (bangsawan) Jawa.  
1. Sekelumit Sejarah Kesenian "Wayang Orang".  Menurut dinas pariwisata Kotamadya Dati II Surakarta, wayang orang lahir pada abad XVIII. Penciptanya adalah Mangkunegara I yang mungkin diilhami oleh seni drama yang telah berkembang di Eropa. Mula-mula wayang orang dipertunjukkan di Surakarta. Akan tetapi karena tidak bertahan lama, pertunjukan wayang orang tersebut pindah ke Yogyakarta. Pada bulan April 1868, yakni sewaktu Mangkunegara IV mengadakan khitanan putranya yang bemama Prangwadana dan Mangkunegara V didatangkan petikan wayang orang dari Yogyakarta. Sejak saat itu wayang orang kembali hidup di Surakarta. Selanjutnya oleh Mangkunegara IV dan V wayang orang itu disempumakan, terutama dalam hal pakaian dan perlengkapannya.  Pada tahun 1899 Pakubuwana X membangun taman Sriwedari. Dalam peresmiannya diadakan berbagai pertunjukan kesenian. Salah satu bentuk kesenian yang dipertunjukkan pada waktu itu adalah wayang orang. Dan saat itulah wayang orang selalu mengisi acara di taman Sriwedari yang merupakan taman Kasunanan itu. Pada mulanya wayang orang merupakan bentuk seni tradisional Jawa yang eksklusif, dipentaskan hanya di lingkungan kraton. Pada tahun 1902 muncul wayang orang yang hidup dengan dasar komersial, dengan penjualan karcis. Pengelola wayang orang yang kemudian ini adalah seorang Cina Wayang orang komersial yang disajikan ke luar batas kraton ini berkembang dan mencapai puncaknya ketika muncul perkumpulan "Ngesti Pandowo" di bawah pimpinan Sastrosabdo. Wayang Orang Sriwedari sendiri pada gilirannya mengikuti pola komersial pula, yakni dengan menjual karcis pada masyarakat umum yang ingin menonton. Kesenian wayang orang adalah perkembangan lebih lanjut dari wayang kulit. Oleh karena itu struktur pertunjukannya serupa. Perbedaanya terutama terletak hanya pada pemainya. Kalau wayang kulit menampilkan boneka, wayang orang menampilkan manusia sebagai wayang. Pertunjukan wavang orang dibuka dengan jejer yang biasanya didahului oleh dialog umum. Selanjutnya baru ditampilkan cerita dan dialog yang berhubungan dengan persoalan pokok. Kemudian ditampilkan adegan perang kembang, yakni perang antara ksatria dengan para raksasa yang mencegat di hutan ketika ksatria sedang melakukan perjalanan melaksanakan tugasnya. Sebelum perang, baik perang kembang maupun perang utama, biasanya ditampilkan adegan goro-goro yang berisi lawak dari punakawan. Dalam pertunjukan wayang orang terdapat unsur yang menjadi perhatian penting, yakni ontowacono atau idiolek tokoh. Setiap tokoh mempunyai idioleknya sendiri yang khas, yang sekaligus mencerminkan wataknya masing masing. Kostum para tokoh merupakan unsur lain yang dianggap tidak kalah pentingnya dari persoalan ontowacono di atas. Wayang orang mempunyai standard yang ketat mengenai kostum ini, sebab kostum mempunyai makna simbolis. Oleh karena makna simbolisnya pula, maka persoalan bentuk tubuh dan peri laku tokohpun menjadi amat penting. Lakon yang tersedia dibedakan menjadi dua macam, yakni lakon pakem dan lakon carangan. Lakon pakem adalah lakon berupa ceritera Mahabharata dan Ramayana. Lakon carangan (karangan/fantasi) adalah lakon karangan baru yang dikaitkan dengan lakon pakem itu. Wayang orang Sriwedari biasanya mementaskan lakon pakem dan berusaha memenuhi pakem pertunjukan wayang secara ketat. Urutan adegan yang ditampilkan tepat seperti yang ditentukan. Ontowacono mereka dapat dikatakan amat baik dan tepat. Kostum mereka sesuai dengan standard dan digunakan dengan rapi. Tatarias mereka juga amat rapi dan sesuai dengan tuntutan pakem. Permainan mereka yang serius didukung oleh kesempurnaan peralatan teknis yang cukup lengkap dan baik. W.O. Sriwedari menggunakan 12 spotlight yang masing-masing berkekuatan 500 watt, 50 footlight, dan beberapa buah borderlight. Mereka mempunyai banyak dekor yang dapat menghadirkan keadaan istana, hutan, tengah jalan, padepokan, taman pasewakan, arena perkelahian dan keputren. Selain itu, tata akustik gedung Sriwedari juga baik.
Meskipun pertunjukan W.O. Sriwedari dapat dikatakan memenuhi tuntutan pakem, pada waktu-waktu tertentu sutradara dan para pemain sering tergoda untuk melakukan beberapa penyimpangan. Mereka kadang-kadang berusaha menampilkan adegan humor dengan porsi yang lebih banyak daripada biasanya, walaupun kadang-kadang hal ini terasa mengganggu alur ceritera. Di lain waktu pkumpulan tersebut juga menampilkan humor pada adegan atau melalui tokoh yang serius. Penyimpangan yang secara resmi mereka lakukan adalah pemadatan pertunjukan. Kalau dahulu setiap malam mereka berpentas sekitar empat setengah jam, kini hanya dua setengah jam. Pertunjukan yang agak panjang hanya dilakukan pada malam minggu.Wayang orang mengalami kejayaannya pada tahun 1950-1965. Pada tahun tahun itu pertunjukan wayang orang selalu mengalami sukses. Gedung-gedung pertunjukannya penuh dengan penonton. Oleh karena kesuksesan itu pertunjukan wayang orang banyak dimanfaatkan oleh berbagai organisasi sosial tertentu. Mereka berusaha mengumpulkan dana sosial melalui pertunjukan teater tradisional tersebut. Para penonton waktu itu berasal dan berbagai kalangan masyarakat. Masyarakat desa, kota, generasi muda, dan juga terutama generasi tua, berbondong-bondong menonton wayang orang. Oleh karena banyaknya peminat, tidak jarang mereka ini tidak mendapatkan karcis masuk atau terpaksa mendapatkannya lewat calo, walaupun harga karcis wayang orang pada waktu itu sangat tinggi, yaitu empat kali lipat dari harga karcis untuk pertunjukan bioskop.
Oleh sebab itu, para pendukung pertunjukan wayang orang ketika itu dapat dikatakan makmur hidupnya. Bagi mereka wayang orang saat itu tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan juga kebutuhan-kebutuhan sekunder seperti rekreasi dan sebagainya. Pada tahun 1965-1975 minat orang menonton pertunjukan wayang orang mulai menyusut. Beberapa organisasi wayang orang yang lahir pada tahun 1950-1965 banyak yang bangkrut dan tutup. Sejak saat itu harga karcis pertunjukan wayang orang tidak hanya tidak mampu melebihi pertunjukan bioskop, tetapi bahkan lebih rendah dari padanya. Organisasi organisasi sosialpun mulai tidak lagi dapat mengandalkan wayang orang sebagai alat pengumpul dana sosial. Kelesuan wayang orang agak terobati dengan munculnya "Ngesti Pandowo" di Semarang. Dengan menampilkan beberapa inovasi, terutama dalam hal trick yang dapat membuat peristiwa-peristiwa ajaib menjadi nyata. Perkumpulan pimpinan Sastrosabdo ini mampu merebut perhatian penonton. Akan tetapi sejak meninggalnya si pemimpin, Ngesti Pandowo pun mulai surut. Pada tahun 1983 Sastro Sudirjo, pimpinan Ngesti Pandowo yang baru, mengumurnkan pada masyarakat bahwa ia akan menjual gamelan perkumpulannya.
Minat masyarakat terhadap wayang orang ketika itu semakin lama semakin menyusut. Kecenderungan serupa itu terlihat pada daftar jumlah pengunjung wayang orang Sriwedari dari tahun ke tahun. Pada tahun 1981 pengunjung wayang orang di atas 2000 orang. Pada tahun 1982 pengunjung mulai menyusut. Dari dua belas bulan yang ada, lima bulan di antaranya hanya dikunjungi oleh sekitar 1500 orang.
Pada tahun 1983 pengunjung yang mencapai lebih dan 2000 orang hanya terjadi di bulan Desember. Tahun berikutnya pengunjung yang mencapai 2000 orang penonton hanya dua bulan dan yang mencapai 1000 orang hanya dua bulan pula, Pada delapan bulan pertama tahun 1985 penonton yang datang agak meningkat, yakni mencapai rata – rata 1500 orang perbulan. Taman Sriwedari juga menyelenggarakan semacam pasar malam selama sekitar satu bulan setiap tahun. Pada waktu serupa itu jumlah penonton wayang orang biasanya agak meningkat.


Ludruk

Ludruk termasuk jenis teater tradisional Jawa yang lahir dan berkembang di tengah-tengah rakyat dan bersumber pada spontanitas kehidupan rakyat. Ludruk disampaikan dengan penampilan dan bahasa yang mudah dicerna masyarakat. Selain berfungsi sebagai hiburan, seni pertunjukan ini juga berfungsi sebagai pengungkapan suasana kehidupan masyarakat pendukungnya. Di samping itu, kesenian ini juga sering dimanfaatkan sebagai penyaluran kritik sosial.  Hingga sekarangbelam didapat kepastian mengenai tempat asal kelahiran ludruk. Usaha untuk menentukannya biasanya selalu terbentur pada dua pendapat yang berbeda.
Pendapat pertama mengatakan bahwa kesenian ini berasal dari Surabaya, sedang pendapat yang ke dua menganggap bahwa ludruk berasal dari Jombang. Kedua pendapat ini sama-sama kuat argumentasinya. Menurut penuturan beberapa narasumber dan kalangan seniman ludruk, embrio kesenian ludruk pertama kali muncul sekitar tahun 1890. Pemulanya adalah Gangsar, seorang tokoh yang berasal dan desa Pandan, Jombang. Gangsar pertama kali mencetuskan kesenian ini dalam bentuk ngamen dan jogetan. Ia mengembara dan rumah ke rumah. Dalam pengembaraannya ini Gangsar kemudian melihat seorang lelaki sedang menggendong anaknya yang sedang menangis. Lelaki itu berpakaian perempuan, dan ini dianggap Gangsar lucu dan menarik, sehingga dia terdorong menanyakan alasan pemakaian baju perempuan tersebut. Menurut si lelaki, ia memakai baju perempuan tersebut untuk mengelabui anaknya, untuk membuat anaknya merasa bahwa dia digendong oleh ibunya.
Menurut nara sumber ini, peristiwa itulah yang menjadi asal munculnya laki-laki yang berperan sebagai wanita dalam kesenian ludruk.  Narasumber lain menuturkan bahwa hal terakhir ini bermula dari pengembaraan seorang pengamen yang bernama Alim. Seperti halnya Gangsar, dalam pengembaraannya, Alim berjumpa dengan seorang lelaki yang sedang menghibur anaknya. Laki-laki itu mengenakan pakaian wanita. Diceriterakan bahwa Alim berasal dari daerah Kriyan yang kemudian mengembara sampai ke Jombang dan Surabaya.  Dalam pengembaraannya Alim disertai oleh beberapa orang temannya. Mereka bersama sama memperkenalkan bentuk seni ngamen dan jogetan. Kemudian kelompok Alim ini mengembangkan bentuk tersebut menjadi bentuk seni yang berisi parikan dan dialog. Oleh karena tarian yang dibawakan selalu menghentakkan (gedruk-gedruk) kaki, seni itu kemudian diberi nama "ludruk".
Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda, ludruk dikenal sebagai media penyalur kritik sosial kepada pemerintah. Kritik sosial ini ditampilkan melalui parikan (pantun), yang berisi sindiran terselubung, yang disebut besutan.
Oleh karena itu ludruk yang mengandungnya disebut ludruk besutan. Dalam ludruk besutan yang disamarkan tidak hanya kritik sosial, tetapi juga nama para pemain seperti Jumino, Ruswini, Singogambar dan sebagainya. Permainan ludruk besutan tersusun dari tandakan (menari bebas), dagelan (lawak), dan besutan. Dalam ludruk ini belum dikenal cerita yang utuh. Yang ada hanya dialog yang dikembangkan secara spontan.
Dari tahun 1922 sampai dengan tahun 1930, ludruk mengalami perkembangan dengan masuknya secara berangsur-angsur unsur-unsur cerita di dalamnya.
Perkembangan ini banyak dipengaruhi oleh peredaran film bisu di Indonesia. Ludruk yang telah memasukkan unsur cerita disebut ludruk sandiwara. Jenis ludruk ini menampilkan adegan-adegan cerita yang mencerminkan situasi kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Ludruk sandiwara secara realistis berani mengungkapkan keprihatinan masyarakat yang sedang terjajah. Di samping itu, bentuk seni ini mengandung unsur-unsur yang mendorong perjuangan. Kostum ludruk sendiri terdiri dari warna merah dan putih yang mencerminkan bendera kebangsaan Indonesia.
Pada zaman Jepang kesenian ludruk berfungsi sebagai media kritik terhadap pemerintah. Ini tampak terutama dalam ludruk Cak Durasirn yang terkenal dengan parikan "Pagupon omahe dara, melok Nippon tambah sengsara". Dengan parikan serupa itu Cak Durasim ternyata berhasil membangkitkan rasa tidak senang rakyat terhadap Jepang. Cak Durasim akhirnya ditangkap dan meninggal dalam tahanan Jepang.
Pada zaman Republik Indonesia, seni ludruk masih hidup dan berkembang sebagai kesenian rakyat tradisional yang berbentuk teater. Hanya saja, kalau pada masa sebeluninya kesenian ini berfungsi sebagai penyalur kritik sosial, pada masa yang kemudian fungsinya bergeser menjadi penyampai kebijaksanaan pemerintah.
Selain itu, ludruk juga digunakan sebagai media promosi barang dagangan tertentu oleh Sponsor tertentu.
Menurut Sensus Kesenian yang dilakukan oleh Kanwil P dan K Jawa Timur, sampai tahun 1985 terdapat 58 perkumpulan ludruk dengan 1530 orang pemain. Jumlah ini dapat dikatakan cukup banyak dan menunjukkan bahwa minat masyarakat Jawa Timur (Surabaya) terhadap bentuk kesenian ini masih cukup besar. Beberapa warga masyarakat yang ditemui dan diwawancarai secara acak, seperti misalnya pengemudi becak, pegawai sebuah toko fotocopy, masih dapat menceritakan dengan baik berbagai cerita ludruk, tokoh-tokoh ceritanya, perkumpulan, serta pemain pemain ludruk yang terkemuka. Catatan sensus tersebut tidak memberikan gambaran mengenai jenis perkumpulan ludruk. Darinya tidak dapat diketahui perbedaan atau persamaan antara jumlah perkumpulan ludruk amatir, semi-profesional dan profesional.
Untuk dapat mengetahui kehidupan sebuah perkumpulan kesenian ludruk, sebuah perkumpulan ludruk profesional bemama "Bintang Jaya" dilukiskan di sini secara etnografis.
Pertunjukan ludruk mempunyai ciri khusus sebagai berikut. Pemain ludruk semuanya terdiri dari laki-laki, baik untuk peran laki-laki sendiri maupun untuk peran wanita. Oleh karena biasa memainkan peran wanita, para pemain ludruk cenderung terbentuk menjadi kelompok travesti. Bahasa yang digunakan dalam ludruk adalah bahasa yang mudah dicerna masyarakat, yakni bahasa Jawa logat Surabaya. Selain itu, sesuai dengan tuntutan cenita, di dalam bentuk seni ini sering pula digunakan kata-kata Cina, Belanda, Inggris dan Jepang. Selain dalam hal pemain dan bahasa, kekhasan ludruk juga terdapat dalam ceritera, dekorasi, kostum dan urutan pementasan.
Cerita ludruk dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni cerita pakem dan cerita fantasi. Cerita pakem adalah cerita mengenai tokoh-tokoh terkemuka dari wilayah Jawa Timur, seperti Cak Sakera dan Sarif Tambak Yoso.
Cerita fantasi adalah cerita karangan individu tertentu yang biasanya berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari hari. Lakon yang dipentaskan oleh Ludruk Bintang Jaya terdiri dari dua macam, yaitu lakon pakem dan lakon fantasi. Lakon fantasi meliputi lakon horor, drama rumah tangga. Lakon ini banyak dipentaskan karena para penonton cenderung menyenanginya. Menurut Mamat, penonton Girilaya menyenangi lakon fantasi yang berupa drama kehidupan rumah-tangga sehari-hari.Cerita dalam ludruk biasanya diselingi dengan adegan tragedi dan humor. Dekorasi ludruk amat terbatas. Di antaranya adalah dekorasi interior rumah, alam pedesaan dan pegunungan, kuburan, dan resepsi perkawinan. Panggung ditampilkan dengan geber, dekorasi dan peralatan panggung lainnya seperti meja, kursi tamu, bufet, kursi pengantin, dan sebagainya.
Kostum yang dikenakan disesuaikan dengan tuntutan cerita. Oleh karena itu, setiap kelompok kesenian ludruk paling sedikit memiliki kostum pakaian harian, pakaian penganten, seragam tentara dan sebagainya. Perkumpulan ludruk Bintang Jaya mempunyai kostum sendiri yang dibuat menurut kreasi majikan. Kostum ini digunakan sesuai dengan cerita yang ditampilkan. Kostum yang mereka miliki telah cukup lengkap, telah mampu melayani berbagai lakon-lakon ludruk. Mereka mempunyai kostum prajurit untuk cerita perjuangan atau lakon pakem, kostum hantu untuk lakon horor, kostum pengantin untuk cerita drama rumah-tangga.
Selain kostum, Bintang Jaya juga memiliki perangkat gamelan yang sederhana. Perangkat gamelan mi disebut sengganen, yaitu kienengan gong kecil yang terdiri saron dan demung, peking, penerus, kendang dan gong kecil. Penabuh gamelan terdiri dan empat orang, masing-masing memegang peralatan rangkap. Ada yang menangani saron dan demung, peking dan penerus. Kendang dan gong kecil masing-masing dipegang oleh satu orang. Urutan adegan ludruk mempunyai kekhasan. Pentas biasanya dimulai dengan ngremo. Kidungan (pembawaan tembang), bedayan (tari-tarian umum), dan cerita inti, berturut-turut mengikuti adegan ngremo tersebut. Dalam adegan cerita inti terdapat penggantian babakan yang biasanya diselingi dengan humor. Bintang Jaya melakukan semua ini. Namun demikian perkumpulan ini menambahkan pula beberapa hal lain. Salah satunya adalah kontes pakaian daerah seluruh Nusantara yang dibawakan oleh para travesti. Penyutradaraan pertunjukan dilakukan secara longgar dan spontan. Sekitar satu jam sebelum main, sutradara terlebih dahulu mengumpulkan para pemain yang ada. Kemudian ia menjelaskan lakon yang akan dimainkan. Setelah itu satu-persatu pemain didatangi dan ditunjuk sebagai pemeran tokoh tertentu. Selanjutnya sutradara memberikan petunjuk niengenai acting dan garis besar serta pola dialog yang harus dibawakan oleh pemain tersebut. Apabila waktu tidak mencukupi, adegan tertentu diatur pada waktu adegan sebelumnya sedang berlangsung. Apabila ada pemain yang semula ditunjuk, tetapi tidak dapat melaksanakan tugasnya karena berbagai alasan, pemain itu dapat dengan mudah diganti oleh pemain lainnya.

Gamelan Sekaten

 Gamelan Sekaten adalah perangkat gamelan yang paling dianggap berkaitan dengan upacara Islam dan diduga sudah ada sejak jaman MAJAPAHIT. Kegiatan sekatenan sudah ada sejak jaman kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa pada pertengahan abad ke-16. Tentang nama atau asal - usul nama 'sekaten' ada beberapa pendapat. Nama Sekaten dikaitkan dengan kata syahadatain, kalimat syahadat yang harus diucapkan seseorang ketika masuk agama Islam. Nama Sekaten juga ada yang mengaitkan dengan jarwa dhosok dalam bahasa Jawa 'sisig (ing) ati' yang, katanya menggambarkan sesaknya perasaan orang-orang yang berdesakan datang begitu mendengar suara gamelam yang aneh.Nama sekaten juga ada yang mengaitkan dengan ukuran satuan berat yang digunakan oleh masyarakat Jawa masa lampau: se(satu) kati.
Hal itu dihubungkan dengan ukuran besarnya gamelan dan paling berat di antara gamelan yang ada(Supanggah, 2002: 47-48).
Di Kraton Surakarta gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari sengaja dibuat dalam ukuran besar untuk menghasilkan suara yang keras sehingga terdengar dari jarak jauh untuk menarik rakyat sehubungan dengan sarana dakwah agama Islam.Ricikan gamelan Sekaten di Surakarta adalah:
a. satu rancak bonang terdiri dari ricikan bonang dan penembung ditabuh
oleh tiga orang pengrawit
b. dua rancak saron demung
c. empat rancak saron barung, dua rancak saron penerus
d. satu rancak kempyang, sebuah bedhug, sepasang gong besar pada satu
gayor
Semua gamelan tersebut berlaras pelog dan dibuat dari bahan perunggu. Adapun gending-gending sekatenan yang harus disajikan adalah ladrang Rambu, ladrang Rangkung, ladrang Barang Miring, ladrang Glana.Gamelan Sekaten dibunyikan sekali dalam setahun yaitu pada upacara memperingati kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. pada bulan Mulud (Jawa). Di keraton Surakarta gamelan ini menyertai prosesi gunungan dimulai dari bangsal Smarakata, melewati Sitinggil, alun-alun utara, sampai di Halaman Masdjid Agung.

Wayang

Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti "bayangan". Jika ditinjau dari arti filsafatnya "wayang" dapat diartikan sebagai bayangan atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dalam jiwa manusia, seperti angkara murka, kebajikan, serakah dan lain-lain.Sebagai alat untuk memperagakan suatu ceritera wayang.
Dimainkan oleh seorang dalang yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang waranggana sebagai vokalisnya. Di samping itu, seorang dalang kadang kadang juga mempunyai seorang pembantu khusus untuk dirinya, yang bertugas untuk mengatur wayang sebelum permainan dimulai dan mempersiapkan jenis tokoh wayang yang akan dibutuhkan oleh dalang dalam menyajikan ceritera.
Fungsi dalang di sini adalah mengatur jalannya pertunjukan secara keseluruhan.
Dialah yang memimpin semua crewnya untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.
Bahkan sampai pada adegan yang kecil-kecilpun harus ada kekompakan di antara semua crew kesenian tersebut. Dengan demikian, di samping dituntut untuk bisa menghayati masing-masing karakter dari tokoh-tokoh yang ada dalam pewayangan, seorang dalang juga harus mengerti tentang gending (lagu).
Desain lantai yang dipergunakan dalam permainan wayang berupa garis lurus, dan dalam memainkan wayang, seorang dalang dibatasi oleh alas yang dipakai untuk menancapkan wayang.
Dalam pertunjukan wayang dikenal set kanan dan set kiri.
Set kanan merupakan kumpulan tokoh tokoh atau satria-satria pembela kebenaran dan kebajikan, sedangkan set kiri adalah tempat tokoh-tokoh angkara murka.
Walaupun demikian ketentuan ini tidak mutlak. Untuk memperagakan berbagai setting/dekorasi dan pergantian adegan biasanya dipakai simbol berupa gunungan.
Pertunjukan wayang bisa dilakukan pada siang maupun malam hari, atau sehari semalam. Lama pertunjukan untuk satu lakon adalah sekitar 7 sampai 8 jam.
Instrumen musik yang digunakan dalam mengiringi pertunjukan wayang secara lengkap adalah gamelan Jawa pelog dan slendro, tetapi bila tidak lengkap yang biasa digunakan adalah dan jenis slendro saja. Vokalis putri dalam iringan musik yang disebut waranggono bisa satu orang atau lebih. Di samping itu, masih ada vokalis pria yang disebut penggerong atau wirasuara, yang jumlahnya 4 sampai 6 orang dan bertugas mengiringi waranggana dengan suara "koor".
Vokalis pria ini bisa disediakan khusus atau dirangkap oleh penabuh gamelan, sehingga penabuh gamelan adalah juga penggerong. Dalam menentukan lakon yang akan disajikan seorang dalang tidak bisa begitu saja memilih sesuai dengan kehendaknya. Ia dibatasi oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah:
(1) jenis wayang yang dipergunakan sebagai alat peragaan;
(2) kepercayaan masyarakat sekitarnya;
(3) keperluan diadakannya pertunjukan tersebut.
Jenis wayang akan mempengaruhi lakon yang bisa disajikan lewat wayang-wayang tersebut. Seperangkat wayang kulit misalnya hanya dapat dipakai untuk memainkan ceritera-ceritera dari Mahabarata atau Ramayana. Wayang kulit tidak bisa di pakai untuk menampilkan babad Menak. Sebaliknya perangkat wayang golek tidak dapat digunakan untuk melakonkan Mahabarata, ini dikarenakan tokoh tokoh yang ada dalam wayang-wayang tersebut memang sudah dibuat untuk pementasan lakon-lakon (ceritera-ceritera) tertentu.Dalam suatu masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, yang masih patuh pada tradisi dan adat istiadat peninggalan para leluhurnya, banyak kita jumpai pantangan-pantangan atas suatu lakon tertentu untuk pertunjukan wayang.
Sebagian masyarakat misalnya beranggapan bahwa lakon Bharatayuda tabu untuk dipentaskan dalam upacara perayaan perkawinan. Apabila pantangan ini dilanggar, orang yakin bahwa keluarga tersebut akan mengalami kesusahan.
Entah akan ada anggota keluarga yang meninggal, akan terjadi perceraian dalam keluarga tersebut, atau malapetaka lainnya. Di daerah-daerah pedesaan juga masih banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang diselenggarakan dengan pertunjukan wayang.
Untuk suatu upacara tertentu, lakon wayang yang dipentaskan juga tertentu.
Pada upacara bersih desa, yaitu selamatan sesudah panen, lakon yang harus dipertunjukkan adalah "Kondure Dewi Sri" (Pulangnya Dewi Sri), sedangkan untuk upacara ngruwat lakonnya adalah Batara Kala. Selain batasan-batasan ini lakon wayang sering kali juga ditentukan oleh permintaan penanggap2 atau atas kesepakatan antara pihak dalang dan penanggap wayang. Mengenai asal mula timbulnya wayang di Indonesia pendapat dari beberapa ahli dapat digunakan sebagai pedoman untuk memaparkan hal ini. Salah satu pendapat yang didukung oleh data yang kuat disampaikan oleh Sri Mulyono. Mengenai timbulnya pertunjukan wayang ini Mulyono berpendapat bahwa pertunjukan wayang kulit dalam bentuknya yang asli, yaitu dengan segala sarana pentas / peralatannya yang serba sederhana, yang pada garis besarnya sama dengan yang sekarang kita lihat, yaitu dengan menggunakan wayang dari kulit diukir (ditatah), kelir, blencong, kepyak, kotak dan lain sebagainya, sudah dapat dipastikan berasal dan merupakan hasil karya orang Indonesia asli di Jawa, sedangkan timbulnya jauh sebelum kebudayaan Hindu datang.
Pertunjukan wayang kulit ini pada dasarnya merupakan upacara keagamaan atau upacara yang berhubungan dengan kepercayaan untuk menuju "Hyang", dilakukan di malam hari oleh seorang medium (syaman) atau dikerjakan sendiri oleh kepala keluarga dengan mengambil ceritera-ceritera dari leluhur atau nenek moyangnya.
Upacara ini dimaksudkan untuk memanggil dan berhubungan dengan roh nenek moyang guna memohon pertolongan dan restunya apabila keluarga itu akan memulai atau telah selesai menunaikan suatu tugas. Upacara semacam ini diperkirakan timbul pada jaman Neohithik Indonesia atau pada ± tahun 1500 SM. Dalam perkembangannya kemudian upacara ini dikerjakan oleh seorang yang memiliki keahlian, atau menjadikannya suatu pekerjaan tetap, yang disebut dalang.Dalam kurun waktu yang cukup lama pertunjukan wayang kemudian terus berkembang setahap demi setahap namun tetap mempertahankan fungsi intinya, yaitu sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan sistim kepercayaan dan pendidikan.
Berkenaan dengan perkembangan kesenian wayang ini sebagai ibu kota kerajaan Mataram Baru, Yogyakarta telah memberikan tempat hidup yang subur bagi kesenian wayang, sebagaimana tercermin dan didirikannya sekolah dalang Habiranda pada tahun 1925 di kota ini. Kini para dalang lulusan sekolah Habiranda banyak tersebar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat Jawa, ternyata ada beberapa jenis yaitu: Wayang Kulit/ Purwa; Wayang Klithik; Wayang Golek dan Wayang Orang.

 Wayang Kulit Purwa

Sesuai dengan namanya, wayang kulit terbuat dari kulit binatang (kerbau, lembu atau kambing). Wayang kulit dipakai untuk memperagakan Lakon lakon dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana, oleh karena itu disebut juga Wayang Purwa.Sampai sekarang pertunjukan wayang kulit disamping merupakan sarana hiburan juga merupakan salah satu bagian dari upacara-upacara adat seperti: bersih desa, ngruwat dan lain-lain. Untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit secara lengkap dibutuhkan kurang lebih sebanyak 18 orang pendukung. Satu orang sebagai dalang, 2 orang sebagai waranggana, dan 15 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara. Rata-rata pertunjukan dalam satu malam adalah 7 sampai 8 jam, mulai dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Bila dilakukan pada siang hari pertunjukan biasanya dimulai dari jam 09.00 sampai dengan jam 16.00. Tempat pertunjukan wayang ditata dengan menggunakan konsep pentas yang bersifat abstrak. Arena pentas terdiri dari layar berupa kain putih dan sebagai sarana tehnis di bawahnya ditaruh batang pisang untuk menancapkan wayang. Dalam pertunjukan wayang kulit, jumlah adegan dalam satu lakon tidak dapat ditentukan. Jumlah adegan ini akan berbeda-beda berdasarkan lakon yang dipertunjukkan atau tergantung dalangnya. Sebagai pra-tontonan adalah tetabuhan yang tidak ada hubungannya dengan ceritera pokok, jadi hanya bersifat sebagai penghangat suasana saja atau pengantar untuk masuk ke pertunjukan yang sebenarnya.
Sebagai pedoman dalam menyajikan pertunjukan wayang kulit biasanya seorang dalang akan menggunakan pakem pedalangan berupa buku pedalangan.
Namun ada juga dalang yang menggunakan catatan dari dalang-dalang tua yang pengetahuannya diperoleh lewat keturunan. Meskipun demikian, seorang dalang diberi kesempatan pula untuk berimprovisasi, karena pakem pedalangan tersebut sebenarnya hanya berisi inti ceritera pokok saja. Untuk lebih menghidupkan suasana dan membuat pertunjukan menjadi lebih menarik, improvisasi serta kreativitas dalang ini memegang peranan yang amat penting. Warna rias wajah pada wayang kulit mempunyai arti simbolis, akan tetapi tidak ada ketentuan umum di sini. Warna rias merah untuk wajah misalnya, sebagian besar menunjukkan sifat angkara murka, akan tetapi tokoh Setyaki yang memiliki warna rias muka merah bukanlah tokoh angkara murka. Jadi karakter wayang tidaklah ditentukan oleh warna rias muka saja, tetapi juga ditentukan oleh unsur lain, seperti misalnya bentuk (patron) wayang itu sendiri. Tokoh Arjuna, baik yang mempunyai warna muka hitam maupun kuning, adalah tetap Arjuna dengan sifat-sifatnya yang telah kita kenal. Perbedaan warna muka seperti ini hanya untuk membedakan ruang dan waktu pemunculannya.Arjuna dengan warna muka kuning dipentaskan untuk adegan di dalam kraton, sedangkan Arjuna dengan warna muka hitam menunjukkan bahwa dia sedang dalam perjalanan.Demikian pula halnya dengan tokoh Gatotkaca, Kresna, Werkudara dan lain-lain. Perbedaan warna muka wayang ini tidak akan diketahui oleh penonton yang melihat pertunjukan dari belakang layar. Alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan wayang kulit dari dahulu sampai sekarang telah banyak mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan teknologi.Dalam bentuk aslinya alat penerangan yang dipakai pada pertunjukan wayang kulit adalah blencong, kemudian berkembang menjadi lampu minyak tanah (keceran), petromak, sekarang banyak yang menggunakan lampu listrik.

 Wayang Klithik


Wayang klithik terbuat dari kayu dengan dua dimensi (pipih) yang hampir mendekati bentuk wayang kulit.Terdapat persamaan antara wayang kulit dengan wayang klithik, misalnya pada gamelan, vokalis, bahasa yang digunakan dalam dialog, desain lantai, alat penerangan yang dipakai dalam pertunjukan dan lain-lain. Meskipun demikian, banyak juga kita jumpai perbedaan-perbedaannya. Pertunjukan wayang klithik umumnya hanya berfungsi sebagai tontonan biasa yang kadang-kadang di dalamnya diselipkan penerangan-penerangan dari pemerintah. Setting panggung sedikit agak berbeda dengan wayang kulit. Wayang klithik ini meskipun desain lantainya berupa garis lurus, tetapi tidak menggunakan layar, untuk menancapkan wayang digunakan bambu yang sudah dilubangi.
Ceritera yang ditampilkan dalam pertunjukan wayang klithik diambil dari ceritera babad, dan umumnya hanya diambil dari babad Majapahit, mulai dari masuknya Damarwulan menjadi abdi sampai dia menjadi raja. Dalang dalang wayang klithik umumnya memperoleh pengetahuan tentang kesenian dari orang tua mereka yang juga dalang wayang klithik. Lembaga pendidikan untuk dalang wayang klithik tidak dijumpai, sebab wayang klithik memang kurang populer dalam masyarakat.

 Wayang Golek

Seperti halnya wayang klithik wayang golek juga terbuat dari kayu, tetapi wayang golek memiliki tiga dimensi (seperti boneka). Wayang golek ini lebih realis dibanding dengan wayang kulit dan wayang klithik, sebab selain bentuknya menyerupai bentuk badan manusia dia juga dilengkapi dengan kostum yang terbuat dari kain. Pertunjukan wayang golek selain untuk tontonan biasa, juga masih sering dipentaskan sebagai upacara bersih desa. Lakon yang diperagakan berasal dari babad Menak yaitu sejarah tanah Arab menjelang kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Menurut keterangan, ceritera ini dikarang oleh Pujangga Ronggowarsito. Berbeda dengan wayang kulit, warna rias muka wayang golek cukup jelas penggolongan simbolisnya, yakni sebagai berikut:
(1) warna merah untuk watak kemurkaan,
(2) warna putih untuk watak baik dan jujur,
(3) wama merah jambu untuk watak setengah-setengah,
(4) warna hijau untuk watak tulus,
(5) warna hitam untuk watak kelanggengan.
Kostum wayang juga menunjukkan status dan peranannya.
 Misalnya saja, kostum topong adalah untuk peran raja, kostum jangkangan untuk peran satria, kostum jubah untuk peran pendeta, kostum rompi untuk peran cantrik, dan kostum serban untuk peran adipati. Pendidikan kesenian dalang wayang golek juga mirip wayang klithik, yaitu berasal dari pengalaman atau ajaran orang tua yang juga dalang.

Wayang Orang

Wayang Orang merupakan bentuk perwujudan dari wayang kulit yang diperagakan oleh manusia. Jadi kesenian wayang orang ini merupakan refleksi dari wayang kulit. Bedanya, wayang orang ini bisa bergerak dan berdialog sendiri. Fungsi dan pementasan Wayang Orang, disamping sebagai tontonan biasa kadang-kadang juga digunakan untuk memenuhi nadzar. Sebagaimana dalam wayang kulit, lakon yang biasa dibawakan dalam Wayang Orang juga bersumber dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kesenian Wayang Orang yang hidup dewasa ini pada dasarnya terdiri dari dua aliran yaitu gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Perbedaan yang ada di antara dua aliran terdapat terutama pada intonasi dialog, tan, dan kostum. Dialog dalam Wayang Orang gaya Surakarta lebih bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi dan suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi. Dalam Wayang Orang gaya Yogyakarta dialog distilisasinya sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton. Hampir semua group Wayang Orang yang dijumpai menggunakan dialog gaya Surakarta.
Jika toh ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya terdapat pada tarian atau kadangkadang pada kostum. Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak 35 orang, yang terdiri dan:
(1) 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita);
(2) 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara;
(3) 2 orang sebagai waranggana;
(4) 1 orang sebagai dalang.
Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang juga merupakan sutradara tidak seluas seperti pada wayang kulit. Dalang wayang orang bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara suluk atau monolog. Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk-petunjuk garis besar saja. Selanjutnya pemain sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang dalang. Pola kostum dan make up Wayang Orang disesuaikan dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pola tersebut tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang menggunakan konsep pementasan panggung yang bersifat realistis. Setiap gerak dari pemain dilakukan dengan tarian, baik ketika masuk panggung, keluar panggung, perang ataupun yang lain-lain. Gamelan yang dipergunakan seperti juga dalam wayang kulit adalah pelog dan slendro dan bila tidak lengkap biasanya dipakai yang slendro saja. Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8 jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan pada siang hari jarang sekali dilakukan. Sebelum pertunjukan di mulai sering ditampilkan pra-tontonan berupa atraksi tari-tarian yang disebut ekstra, yang tidak ada hubungannya dengan lakon utama.

1 komentar:

  1. Matur nuwun Bopo Priyono, seni langka saged dipun sebarluaskan

    BalasHapus